Ko Cari Di Sini

Google
 
Web HegerMa Blog

POLITIK IDENTITAS

Tuesday, January 27, 2009

Dalam konteks Papua diperlukan politik identitas yang mempertimbangkan faktor geo-politis dan geo-ekonomis. Amat tidak memadai jika politik identitas hanya diterjemahkan dengan kehadiran presiden dalam perayaan Natal bersama rakyat Papua, atau keputusan membuat Majelis Rakyat Papua. Wacana pengembalian otonomi khusus muncul karena persepsi, pemerintah tidak membuat terobosan berarti guna mengurai ketidakadilan yang dirasakan rakyat Papua.

Rakyat Papua kian bingung terhadap bujuk-rayu, janji pembangunan dan pemerataan. Mereka takkan berhenti menuntut bukti bahwa nasionalisme Indonesia benar-benar membuat mereka senasib dan sejajar bangsa-bangsa di Nusantara. Bukan ”nasionalisme jang menjerang-jerang, jang mengejar kepentingannya sendiri, dan nasionalisme perdagangan jang untung atau rugi,” seperti dijanjikan Soekarno.
Namun, sejauh ini belum ada gelagat pemerintah memikirkan politik identitas. Politik identitas atau strategi kebudayaan mungkin dilihat sebagai kerja jangka panjang yang berbelit-belit dan tidak praktis karena pemerintah terbiasa mendekati masalah secara pragmatis: militeristik berbasis kekerasan.
Pendekatan yang tidak pernah menurunkan tensi kebencian dan antipati. Hasil polling Lingkaran Survei Indonesia menunjukkan, hanya 45 persen orang Aceh yang merasa sebagai orang Indonesia. Jika pendekatan kekerasan tetap ditonjolkan, fakta serupa mungkin juga terjadi pada orang Papua dan lain-lain. (Agus Sudibyo Deputi Direktur Yayasan SET Jakarta)

0 comments:

Post a Comment

Kata Mereka

This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by Phaul Heger
PAPUA SONG Gratisan Lada Papua Barat

Go :

Free Website Hosting

Translate

Blog2Print

Lorem Ipsum

Our Blogger Templates Web Design



Total Pageviews

KU TAK INGIN

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP