Ko Cari Di Sini

Google
 
Web HegerMa Blog

RESOLUSI 2010***

Wednesday, December 23, 2009

Oleh: Habelino Alonzo Sera Maniagasi Sawaki

Dari sudut pandang 9 warna, tahun 2010 adalah tahun berwarna ungu. Warna Ungu dari sudut pandang 9 warna adalah warna yang berpusat di hati.
Tahun ungu pada 2010 nanti merupakan gabungan (akumulasi) warna coklat + hitam. kata kunci warna hitam adalah konsistensi. Kata kunci dari warna coklat adalah pelayanan.
Tahun Ungu adalah tahun perjuangan. Banyak orang akan tampil sebagai pejuang yang gigih. Apa yang diinginkan hari ini akan menjadi kenyataan esok hari. Tahun dimana banyak orang disibukan dengan berbagai macam proyek. Selalu ingin meraih lebih banyak.
Tahun 2010 adalah tahun kreatif dan tidak pernah kehabisan akal. Banyak orang punya segudang prestasi. Tahun dimana tidak pernah kehabisan topik untuk dibicarakan. Tahun 2010 adalah tahun perdebatan. Banyak orang akan terjebak dalam perdebatan yang bisa sangat menguras energi. Banyak orang berdebat demi debat itu sendiri tak perlu apapun materinya.
Tahun yang luwes dan lentur, tahun yang bisa menerima banyak gagasan yang berbeda-beda. Banyak orang akan mendapatkan apa yang diinginkan maka setiap kata yang diucapkan dan setiap hal yang dilakukan akan selalu konsisten dalam rangka mencapai apa yang ingin dikejar.
Tahun dimana banyak orang senang bekerja dalam tim dan akan melaksanakan semua saran dan nasihat untuk meningkatkan kinerja.
Banyak orang tahu kapan saatnya untuk bertindak dan meraih kesempatan. Tahun tawar-menawar politik. Tahun inovatif, dimana banyak orang selalu berusaha mengikuti perkembangan zaman dan gemar mengambil alih teknologi asing. Tahun yang senang memperkenalkan ide-ide baru dengan penuh antusiasme sehingga menghasilkan buah yang unik.
Tahun 2010 merupakan tahun prestasi dan kompetitif. Banyak orang akan berusaha keras maju serta menjadi yang terbaik dalam segala bidang.
Jangan sekali-kali mengatakan tidak kepada tahun 2010 sebab tahun ungu tidak pernah bisa menerima jawaban tidak. Jawaban tidak akan dipandang sebagai tantangan dan akan diubah menjadi ya.
Perlu diingat bahwa pada tahun 2010 kita dituntut lebih untuk bersikap optimistik dan positif. Segala sesuatu harus dipandang sebagai tantangan. Kita akan berhasil bila mau mengerahkan segenap diri sungguh-sungguh.
Tahun dimana banyak orang cukup ego dan keras kepala. Ego pada dasarnya baik. Ego adalah rahmat atau anugrah Tuhan pada manusia sebagai makhluk pribadi. Ini harus menjadi kesadaran kita bersama. Ego merupakan produk hati.
Masalahnya kemudian apakah ego kita berada dalam batas yang wajar atau tidak. Jika ego kita berada dalam batas yang berlebihan akan. Menampilkan kita sebagai pribadi yang sangat individualistik dan tak memperdulikan orang lain.
Jika ego kita sangat rendah, maka kita menjadi rendah diri. Kita menjadi pribadi yang tidak percaya diri, mudah putus asa dan lain-lain. Jika ego kita berada dalam batas yang wajar maka kualitas pelayanan terhadap sesama akan berimbang dengan kualitas pelayanan terhadap diri pribadi.
Tantangan tahun 2010: Kita ditantang untuk konsisten menjalankan pelayanan terhadap sesama. Karena pengaruh hati yang dominan pada tahun ini maka penting kiranya untuk memobilisasikan kepala kita, sehingga kita tidak jatuh dalam lubang subyektifitas. Perlu kiranya disadari bahwa kalau sekedar melayani orang yang dikenal atau memiliki hubungan dekat dengan kita, maka orang jahat pun dapat melakukannya.
Bagaimana supaya kita mampu melewati tantangan tahun 2010? Kita perlu terlebih dahulu memahami apa arti kepelayanan. Jika anda merenungkan kepelayanan, apakah anda membayangkannya sebagai kegiatan yang dilakukan oleh orang yang berpangkat rendahan yang relatif tidak terampil? Jika ya, Anda keliru. Kepelayanan bukanlah soal posisi atau keterampilan. Melainkan soal sikap.
Kita dapat merasakan jika seorang pekerja tidak mau membantu, kita juga mudah mendeteksi apakah seorang pemimpin itu memiliki hati yang melayani. Dan sebenarnya para pemimpin terbaik ingin melayani orang lain, bukan diri sendiri.
Apa artinya memiliki kualitas pelayanan? Seorang pemimpin yang melayani:
Mendahulukan Orang Lain Ketimbang Agendanya Sendiri
Tanda pelayanan yang pertama adalah kemampuan untuk mendahulukan orang lain ketimbang diri sendiri serta kepentingan pribadi. Kepelayanan adalah lebih dari sekedar rela menunda agenda sendiri. Kepelayanan artinya sengaja mencari tahu akan kebutuhan orang lain, sengaja menawarkan diri untuk membantu, dan dapat menerima bahwa keinginan-keinginan mereka itupun penting.
Memiliki Keyakinan Untuk Melayani
Inti dari kepelayanan adalah kemapanan. Seseorang yang menganggap dirinya terlalu penting untuk melayani pada dasarnya tidak mapan. Bagaimana kita perlakukan orang lain sesungguhnya mencerminkan bagaimana pandangan kita menyangkut diri sendiri. Eric Hoffer, mengatakan begini: “Yang luar biasa adalah bahwa kita sungguh mengasihi sesama seperti diri kita sendiri; kita lakukan kepada orang lain seperti yang kita lakukan kepada diri sendiri. Kita benci orang lain jika kita benci diri sendiri. Kita toleran terhadap orang lain jika kita toleran terhadap diri sendiri. Kita ampuni orang lain jika kita ampuni diri sendiri. Akar dari segala kesulitan yang menimpa dunia kita bukanlah kasih terhadap diri sendiri melainkan benci terhadap diri sendiri”.
Hukum pemberdayaan mengatakan bahwa hanya pemimpin yang mapanlah yang dapat memberikan kekuatan terhadap orang lain. Juga benar bahwa hanya pemimpin yang mapanlah yang memperlihatkan kepelayanan.
Menginisiatifkan Pelayanan Bagi Orang Lain
Boleh dikata semua orang akan melayani jika terpaksa. Dan yang akan melayani dalam suatu krisis. Namun anda dapat sungguh melihat hati seseorang yang menginisiatifkan pelayanan bagi orang lain. Pemimpin-pemimpin besar melihat kebutuhan mengambil kesempatan itu dan melayani tanpa mengharapkan balasannya.
Tidak Terlalu Memetingkan Posisinya
Para pemimpin yang melayani tidak memfokuskan dirinya pada pangkat atau posisi. Ketika kolonel Norman Schwarzkopf melangkah ke lapangan ranjau itu, pangkat tidak dipikirkannya sama sekali. Ia adalah seorang yang berusaha menolong orang lain. Kalaupun ada, posisinya sebagai pemimpin justru memberinya rasa bertanggung jawab yang lebih besar untuk melayani.
Melayani Atas Dasar Kasih
Kepelayanan bukanlah bermotifkan manipulasi atau promosi diri. Melainkan didorong oleh kasih. Sejauh mana pengaruh anda adalah tergantung pada seberapa dalam anda mementingkan orang lain. Itulah sebabnya mengapa sungguh penting bagi pemimpin untuk rela melayani.
Akhirnya, memang benar bahwa mereka yang ingin menjadi besar harus menjadi yang terkecil dan melayani yang lainnya. Jika anda memimpin di tingkat tinggi, bersedialah melayani di tingkatan yang terendah.

Selamat memasuki tahun 2010 ... Tuhan memberkati ...

*** Dikembangkan Oleh Habelino Institute (HI)

Read more...

RESOLUSI 2010***

Oleh: Habelino Alonzo Sera Maniagasi Sawaki

Dari sudut pandang 9 warna, tahun 2010 adalah tahun berwarna ungu. Warna Ungu dari sudut pandang 9 warna adalah warna yang berpusat di hati.
Tahun ungu pada 2010 nanti merupakan gabungan (akumulasi) warna coklat + hitam. kata kunci warna hitam adalah konsistensi. Kata kunci dari warna coklat adalah pelayanan.
Tahun Ungu adalah tahun perjuangan. Banyak orang akan tampil sebagai pejuang yang gigih. Apa yang diinginkan hari ini akan menjadi kenyataan esok hari. Tahun dimana banyak orang disibukan dengan berbagai macam proyek. Selalu ingin meraih lebih banyak.
Tahun 2010 adalah tahun kreatif dan tidak pernah kehabisan akal. Banyak orang punya segudang prestasi. Tahun dimana tidak pernah kehabisan topik untuk dibicarakan. Tahun 2010 adalah tahun perdebatan. Banyak orang akan terjebak dalam perdebatan yang bisa sangat menguras energi. Banyak orang berdebat demi debat itu sendiri tak perlu apapun materinya.
Tahun yang luwes dan lentur, tahun yang bisa menerima banyak gagasan yang berbeda-beda. Banyak orang akan mendapatkan apa yang diinginkan maka setiap kata yang diucapkan dan setiap hal yang dilakukan akan selalu konsisten dalam rangka mencapai apa yang ingin dikejar.
Tahun dimana banyak orang senang bekerja dalam tim dan akan melaksanakan semua saran dan nasihat untuk meningkatkan kinerja.
Banyak orang tahu kapan saatnya untuk bertindak dan meraih kesempatan. Tahun tawar-menawar politik. Tahun inovatif, dimana banyak orang selalu berusaha mengikuti perkembangan zaman dan gemar mengambil alih teknologi asing. Tahun yang senang memperkenalkan ide-ide baru dengan penuh antusiasme sehingga menghasilkan buah yang unik.
Tahun 2010 merupakan tahun prestasi dan kompetitif. Banyak orang akan berusaha keras maju serta menjadi yang terbaik dalam segala bidang.
Jangan sekali-kali mengatakan tidak kepada tahun 2010 sebab tahun ungu tidak pernah bisa menerima jawaban tidak. Jawaban tidak akan dipandang sebagai tantangan dan akan diubah menjadi ya.
Perlu diingat bahwa pada tahun 2010 kita dituntut lebih untuk bersikap optimistik dan positif. Segala sesuatu harus dipandang sebagai tantangan. Kita akan berhasil bila mau mengerahkan segenap diri sungguh-sungguh.
Tahun dimana banyak orang cukup ego dan keras kepala. Ego pada dasarnya baik. Ego adalah rahmat atau anugrah Tuhan pada manusia sebagai makhluk pribadi. Ini harus menjadi kesadaran kita bersama. Ego merupakan produk hati.
Masalahnya kemudian apakah ego kita berada dalam batas yang wajar atau tidak. Jika ego kita berada dalam batas yang berlebihan akan. Menampilkan kita sebagai pribadi yang sangat individualistik dan tak memperdulikan orang lain.
Jika ego kita sangat rendah, maka kita menjadi rendah diri. Kita menjadi pribadi yang tidak percaya diri, mudah putus asa dan lain-lain. Jika ego kita berada dalam batas yang wajar maka kualitas pelayanan terhadap sesama akan berimbang dengan kualitas pelayanan terhadap diri pribadi.
Tantangan tahun 2010: Kita ditantang untuk konsisten menjalankan pelayanan terhadap sesama. Karena pengaruh hati yang dominan pada tahun ini maka penting kiranya untuk memobilisasikan kepala kita, sehingga kita tidak jatuh dalam lubang subyektifitas. Perlu kiranya disadari bahwa kalau sekedar melayani orang yang dikenal atau memiliki hubungan dekat dengan kita, maka orang jahat pun dapat melakukannya.
Bagaimana supaya kita mampu melewati tantangan tahun 2010? Kita perlu terlebih dahulu memahami apa arti kepelayanan. Jika anda merenungkan kepelayanan, apakah anda membayangkannya sebagai kegiatan yang dilakukan oleh orang yang berpangkat rendahan yang relatif tidak terampil? Jika ya, Anda keliru. Kepelayanan bukanlah soal posisi atau keterampilan. Melainkan soal sikap.
Kita dapat merasakan jika seorang pekerja tidak mau membantu, kita juga mudah mendeteksi apakah seorang pemimpin itu memiliki hati yang melayani. Dan sebenarnya para pemimpin terbaik ingin melayani orang lain, bukan diri sendiri.
Apa artinya memiliki kualitas pelayanan? Seorang pemimpin yang melayani:
Mendahulukan Orang Lain Ketimbang Agendanya Sendiri
Tanda pelayanan yang pertama adalah kemampuan untuk mendahulukan orang lain ketimbang diri sendiri serta kepentingan pribadi. Kepelayanan adalah lebih dari sekedar rela menunda agenda sendiri. Kepelayanan artinya sengaja mencari tahu akan kebutuhan orang lain, sengaja menawarkan diri untuk membantu, dan dapat menerima bahwa keinginan-keinginan mereka itupun penting.
Memiliki Keyakinan Untuk Melayani
Inti dari kepelayanan adalah kemapanan. Seseorang yang menganggap dirinya terlalu penting untuk melayani pada dasarnya tidak mapan. Bagaimana kita perlakukan orang lain sesungguhnya mencerminkan bagaimana pandangan kita menyangkut diri sendiri. Eric Hoffer, mengatakan begini: “Yang luar biasa adalah bahwa kita sungguh mengasihi sesama seperti diri kita sendiri; kita lakukan kepada orang lain seperti yang kita lakukan kepada diri sendiri. Kita benci orang lain jika kita benci diri sendiri. Kita toleran terhadap orang lain jika kita toleran terhadap diri sendiri. Kita ampuni orang lain jika kita ampuni diri sendiri. Akar dari segala kesulitan yang menimpa dunia kita bukanlah kasih terhadap diri sendiri melainkan benci terhadap diri sendiri”.
Hukum pemberdayaan mengatakan bahwa hanya pemimpin yang mapanlah yang dapat memberikan kekuatan terhadap orang lain. Juga benar bahwa hanya pemimpin yang mapanlah yang memperlihatkan kepelayanan.
Menginisiatifkan Pelayanan Bagi Orang Lain
Boleh dikata semua orang akan melayani jika terpaksa. Dan yang akan melayani dalam suatu krisis. Namun anda dapat sungguh melihat hati seseorang yang menginisiatifkan pelayanan bagi orang lain. Pemimpin-pemimpin besar melihat kebutuhan mengambil kesempatan itu dan melayani tanpa mengharapkan balasannya.
Tidak Terlalu Memetingkan Posisinya
Para pemimpin yang melayani tidak memfokuskan dirinya pada pangkat atau posisi. Ketika kolonel Norman Schwarzkopf melangkah ke lapangan ranjau itu, pangkat tidak dipikirkannya sama sekali. Ia adalah seorang yang berusaha menolong orang lain. Kalaupun ada, posisinya sebagai pemimpin justru memberinya rasa bertanggung jawab yang lebih besar untuk melayani.
Melayani Atas Dasar Kasih
Kepelayanan bukanlah bermotifkan manipulasi atau promosi diri. Melainkan didorong oleh kasih. Sejauh mana pengaruh anda adalah tergantung pada seberapa dalam anda mementingkan orang lain. Itulah sebabnya mengapa sungguh penting bagi pemimpin untuk rela melayani.
Akhirnya, memang benar bahwa mereka yang ingin menjadi besar harus menjadi yang terkecil dan melayani yang lainnya. Jika anda memimpin di tingkat tinggi, bersedialah melayani di tingkatan yang terendah.

Selamat memasuki tahun 2010 ... Tuhan memberkati ...

*** Dikembangkan Oleh Habelino Institute (HI)

Read more...

JANGAN PERNAH BERHENTI BERMAIN KARENA TUA

Wednesday, December 16, 2009

Jangan pernah berhenti bermain karena Tua

Jangan pernah berhenti bermain karena Tua, justru akan menjadi tua karena berhenti bermain. Rahasia agar tetap awet muda adalah tetap menemukan humor setiap hari dan mempunyai mimpi. jika kehilangan mimpi, kamu akan mati.

Ada banyak sekali orang yang berjalan disekitar kita yang mati namun mereka tak menyadarinya.

Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Seseorang berumur sembilan belas tahun dan berbaring ditempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, orang tersebut tetap akan akan berubah menjadi dua puluh tahun. Bila anda berusia delapan puluh lima tahun dan tinggal ditempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apa-apa, anda tetap akan menjadi delapan puluh enam tahun.

Setiap orang pasti menjadi tua, hal itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan dan jangan pernah menyesal, karena orang yang sudah tua usianya biasanya tidak menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak diperbuatnya. Dan orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan.

Sadarilah….
Tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kita lakukan.

Ingatlah ….
Menjadi tua adalah kepastian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.

Sediakanlah waktu untuk….
Berpikir, karena itulah sumber kekuatan
Bermain, itulah rahasia awet muda
Membaca, menjadi landasan kebijaksanaan
Berteman, jalan menuju kebahagiaan
Bermimpi, itulah yang akan membawa anda ke bintang
Mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan
Lihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.
Dan sediakan waktu untuk tertawa, karena itulah musik jiwa.

Grace Felicya
29 November jam 4:55

Read more...

JANGAN PERNAH BERHENTI BERMAIN KARENA TUA

Jangan pernah berhenti bermain karena Tua

Jangan pernah berhenti bermain karena Tua, justru akan menjadi tua karena berhenti bermain. Rahasia agar tetap awet muda adalah tetap menemukan humor setiap hari dan mempunyai mimpi. jika kehilangan mimpi, kamu akan mati.

Ada banyak sekali orang yang berjalan disekitar kita yang mati namun mereka tak menyadarinya.

Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Seseorang berumur sembilan belas tahun dan berbaring ditempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, orang tersebut tetap akan akan berubah menjadi dua puluh tahun. Bila anda berusia delapan puluh lima tahun dan tinggal ditempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apa-apa, anda tetap akan menjadi delapan puluh enam tahun.

Setiap orang pasti menjadi tua, hal itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan dan jangan pernah menyesal, karena orang yang sudah tua usianya biasanya tidak menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak diperbuatnya. Dan orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan.

Sadarilah….
Tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kita lakukan.

Ingatlah ….
Menjadi tua adalah kepastian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.

Sediakanlah waktu untuk….
Berpikir, karena itulah sumber kekuatan
Bermain, itulah rahasia awet muda
Membaca, menjadi landasan kebijaksanaan
Berteman, jalan menuju kebahagiaan
Bermimpi, itulah yang akan membawa anda ke bintang
Mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan
Lihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.
Dan sediakan waktu untuk tertawa, karena itulah musik jiwa.

Grace Felicya
29 November jam 4:55

Read more...

CERMIN YANG TERLUPAKAN

Pada suatu ketika, sepasang suami istri, katakanlah nama mereka Smith, mengadakan 'garage sale' untuk menjual barang-barang bekas yang tidak mereka butuhkan lagi. Suami istri ini sudah setengah baya, dan anak-anak mereka telah meninggalkan rumah untuk hidup mandiri.

Sekarang waktunya untuk membenahi rumah, dan menjual barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi.



Saat mengumpulkan barang-barang yang akan dijual, mereka menemukan benda-benda yang sudah sedemikian lama tersimpan di gudang. Salah satu di antaranya adalah sebuah cermin yang mereka dapatkan sebagai hadiah pernikahan mereka, dua puluh tahun yang lampau.

Sejak pertama kali diperoleh, cermin itu sama sekali tidak pernah digunakan. Bingkainya yang berwarna biru aqua membuat cermin itu tampak buruk, dan tidak cocok untuk diletakkan di ruangan mana pun di rumah mereka. Namun karena tidak ingin menyakiti orang yang menghadiahkannya, cermin itu tidak mereka kembalikan.

Demikianlah, cermin itu teronggok di loteng. Setelah dua puluh tahun berlalu, mereka berpikir orang yang memberikannya tentu sudah lupa dengan cermin itu. Maka mereka mengeluarkannya dari gudang, dan meletakkannya bersama dengan barang lain untuk dijual keesokan hari.

Garage sale mereka ternyata mendapat banyak peminat. Halaman rumah mereka penuh oleh orang-orang yang datang untuk melihat barang bekas yang mereka jual. Satu per satu barang bekas itu mulai terjual. Perabot rumah tangga, buku-buku, pakaian, alat berkebun, mainan anak-anak, bahkan radio tua yang sudah tidak berfungsi pun masih ada yang membeli.

Seorang lelaki menghampiri Mrs. Smith. "Berapa harga cermin itu?" katanya sambil menunjuk cermin tak terpakai tadi. Mrs. Smith tercengang. "Wah, saya sendiri tidak berharap akan menjual cermin itu. Apakah Anda sungguh ingin membelinya?" katanya.
"Ya, tentu saja. Kondisinya masih sangat bagus." jawab pria itu. Mrs. Smith tidak tahu berapa harga yang pantas untuk cermin jelek itu. Meskipun sangat mulus, namun baginya cermin itu tetaplah jelek dan tidak berharga.

Setelah berpikir sejenak, Mrs. Smith berkata, "Hmm ... anda bisa membeli cermin itu untuk satu dolar."
Dengan wajah berseri-seri, pria tadi mengeluarkan dompetnya, menarik selembar uang satu dolar dan memberikannya kepada Mrs. Smith.

"Terima kasih," kata Mrs. Smith, "Sekarang cermin itu jadi milik Anda. Apakah perlu dibungkus?"
"Oh, jika boleh, saya ingin memeriksanya sebelum saya bawa pulang." jawab si pembeli..

Mrs. Smith memberikan ijinnya, dan pria itu bergegas mengambil cerminnya dan meletakkannya di atas meja di depan Mrs. Smith. Dia mulai mengupas pinggiran bingkai cermin itu. Dengan satu tarikan dia melepaskan lapisan pelindungnya dan muncullah warna keemasan dari baliknya.

Bingkai cermin itu ternyata bercat emas yang sangat indah, dan warna biru aqua yang selama ini menutupinya hanyalah warna dari lapisan pelindung bingkai itu!

"Ya, tepat seperti yang saya duga! Terima kasih!" sorak pria itu dengan gembira. Mrs. Smith tidak bisaberkata-kata menyaksikan cermin indah itu dibawa pergi oleh pemilik barunya, untuk mendapatkan tempat yang lebih pantas daripada loteng rumah yang sempit dan berdebu.

Kisah ini menggambarkan bagaimana kita melihat hidup kita. Terkadang kita merasa hidup kita membosankan, tidak seindah yang kita inginkan. Kita melihat hidup kita berupa rangkaian rutinitas yang harus kita jalani. Bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur, bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur. Itu saja yang kita jalani setiap hari.
Sama halnya dengan Mr. dan Mrs. Smith yang hanya melihat plastik pelapis dari bingkai cermin mereka, sehingga mereka merasa cermin itu jelek dan tidak cocok digantung di dinding. Padahal dibalik lapisan itu, ada warna emas yang indah.

Padahal di balik rutinitas hidup kita, ada banyak hal yang dapat memperkaya hidup kita.

Setiap saat yang kita lewati, hanya bisa kita alami satu kali seumur hidup kita. Setiap detik yang kita jalani, hanya berlaku satu kali dalam hidup kita. Setiap detik adalah pemberian baru dari Tuhan untuk kita.

Akankah kita menyia-nyiakannya dengan terpaku pada rutinitas?

Akankah kita membiarkan waktu berlalu dengan merasa hidup kita tidak seperti yang kita inginkan?

Setelah dua puluh tahun, dan setelah terlambat, barulah Mrs. Smith menyadari nilai sesungguhnya dari cermin tersebut. Inginkah kita menyadari keindahan hidup kita setelah segalanya terlambat? Tentu tidak.

Sebab itu, marilah kita mulai mengikis pandangan kita bahwa hidup hanyalah rutinitas belaka. Mari kita mulai mengelupas rutinitas tersebut dan menemukan nilai sesungguhnya dari hidup kita.

Marilah kita mulai menjelajah hidup kita, menemukan hal-hal baru, belajar lebih banyak, mengenal orang lebih baik.

Mari kita melakukan sesuatu yang baru.

Mari kita membuat perbedaan!

Read more...

CERMIN YANG TERLUPAKAN

Pada suatu ketika, sepasang suami istri, katakanlah nama mereka Smith, mengadakan 'garage sale' untuk menjual barang-barang bekas yang tidak mereka butuhkan lagi. Suami istri ini sudah setengah baya, dan anak-anak mereka telah meninggalkan rumah untuk hidup mandiri.

Sekarang waktunya untuk membenahi rumah, dan menjual barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi.



Saat mengumpulkan barang-barang yang akan dijual, mereka menemukan benda-benda yang sudah sedemikian lama tersimpan di gudang. Salah satu di antaranya adalah sebuah cermin yang mereka dapatkan sebagai hadiah pernikahan mereka, dua puluh tahun yang lampau.

Sejak pertama kali diperoleh, cermin itu sama sekali tidak pernah digunakan. Bingkainya yang berwarna biru aqua membuat cermin itu tampak buruk, dan tidak cocok untuk diletakkan di ruangan mana pun di rumah mereka. Namun karena tidak ingin menyakiti orang yang menghadiahkannya, cermin itu tidak mereka kembalikan.

Demikianlah, cermin itu teronggok di loteng. Setelah dua puluh tahun berlalu, mereka berpikir orang yang memberikannya tentu sudah lupa dengan cermin itu. Maka mereka mengeluarkannya dari gudang, dan meletakkannya bersama dengan barang lain untuk dijual keesokan hari.

Garage sale mereka ternyata mendapat banyak peminat. Halaman rumah mereka penuh oleh orang-orang yang datang untuk melihat barang bekas yang mereka jual. Satu per satu barang bekas itu mulai terjual. Perabot rumah tangga, buku-buku, pakaian, alat berkebun, mainan anak-anak, bahkan radio tua yang sudah tidak berfungsi pun masih ada yang membeli.

Seorang lelaki menghampiri Mrs. Smith. "Berapa harga cermin itu?" katanya sambil menunjuk cermin tak terpakai tadi. Mrs. Smith tercengang. "Wah, saya sendiri tidak berharap akan menjual cermin itu. Apakah Anda sungguh ingin membelinya?" katanya.
"Ya, tentu saja. Kondisinya masih sangat bagus." jawab pria itu. Mrs. Smith tidak tahu berapa harga yang pantas untuk cermin jelek itu. Meskipun sangat mulus, namun baginya cermin itu tetaplah jelek dan tidak berharga.

Setelah berpikir sejenak, Mrs. Smith berkata, "Hmm ... anda bisa membeli cermin itu untuk satu dolar."
Dengan wajah berseri-seri, pria tadi mengeluarkan dompetnya, menarik selembar uang satu dolar dan memberikannya kepada Mrs. Smith.

"Terima kasih," kata Mrs. Smith, "Sekarang cermin itu jadi milik Anda. Apakah perlu dibungkus?"
"Oh, jika boleh, saya ingin memeriksanya sebelum saya bawa pulang." jawab si pembeli..

Mrs. Smith memberikan ijinnya, dan pria itu bergegas mengambil cerminnya dan meletakkannya di atas meja di depan Mrs. Smith. Dia mulai mengupas pinggiran bingkai cermin itu. Dengan satu tarikan dia melepaskan lapisan pelindungnya dan muncullah warna keemasan dari baliknya.

Bingkai cermin itu ternyata bercat emas yang sangat indah, dan warna biru aqua yang selama ini menutupinya hanyalah warna dari lapisan pelindung bingkai itu!

"Ya, tepat seperti yang saya duga! Terima kasih!" sorak pria itu dengan gembira. Mrs. Smith tidak bisaberkata-kata menyaksikan cermin indah itu dibawa pergi oleh pemilik barunya, untuk mendapatkan tempat yang lebih pantas daripada loteng rumah yang sempit dan berdebu.

Kisah ini menggambarkan bagaimana kita melihat hidup kita. Terkadang kita merasa hidup kita membosankan, tidak seindah yang kita inginkan. Kita melihat hidup kita berupa rangkaian rutinitas yang harus kita jalani. Bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur, bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur. Itu saja yang kita jalani setiap hari.
Sama halnya dengan Mr. dan Mrs. Smith yang hanya melihat plastik pelapis dari bingkai cermin mereka, sehingga mereka merasa cermin itu jelek dan tidak cocok digantung di dinding. Padahal dibalik lapisan itu, ada warna emas yang indah.

Padahal di balik rutinitas hidup kita, ada banyak hal yang dapat memperkaya hidup kita.

Setiap saat yang kita lewati, hanya bisa kita alami satu kali seumur hidup kita. Setiap detik yang kita jalani, hanya berlaku satu kali dalam hidup kita. Setiap detik adalah pemberian baru dari Tuhan untuk kita.

Akankah kita menyia-nyiakannya dengan terpaku pada rutinitas?

Akankah kita membiarkan waktu berlalu dengan merasa hidup kita tidak seperti yang kita inginkan?

Setelah dua puluh tahun, dan setelah terlambat, barulah Mrs. Smith menyadari nilai sesungguhnya dari cermin tersebut. Inginkah kita menyadari keindahan hidup kita setelah segalanya terlambat? Tentu tidak.

Sebab itu, marilah kita mulai mengikis pandangan kita bahwa hidup hanyalah rutinitas belaka. Mari kita mulai mengelupas rutinitas tersebut dan menemukan nilai sesungguhnya dari hidup kita.

Marilah kita mulai menjelajah hidup kita, menemukan hal-hal baru, belajar lebih banyak, mengenal orang lebih baik.

Mari kita melakukan sesuatu yang baru.

Mari kita membuat perbedaan!

Read more...

KORUPTOR = ATEIS

Tuesday, December 15, 2009

Ateis (dalam bahasa Yunani: a-theos’ berarti tiada Tuhan. Ateisme adalah sebuah aliran yang menyangkal adanya Tuhan. Atheisme modern terbagi dalam tiga kategori.


Pertama, ateisme militan yang berkeyakinan bahwa tak ada Tuhan. Cabang yang paling menonjol dan tersebar di setiap pelosok dunia adalah komunisme yang mendasarkan arah dan tujuan hidup pada materialismo. Dengan berbagai cara dan halal segala cara akan ditempuh ingá mampu merebut, menumpuk harta kekayaan.
Kedua, atéisme skeptis yang berkeyakinan bahwa batas pikiran manusia tak sanggup menangkap dan memami apakah Tuhan itu ada atau tidak ada. Dalam kehidupan sehari-hari mereka hidup tanpa mengindahkan bahwa Tuhan ada. “Coromemus nos rosis, cras enim moriemur”: Marilah kita nikmati hidup sepuas-puasnya, sebab besok pagi kita mati.
Ketiga, Ateisme praktis menunjuk realitas hidup bahwa Tuhan tetap diyakini, tetapi dalam kehidupan keseharian tak pernah menyentuh dimensi-dimensi hidup. Hidup serba munafik. Penipuan, korupsi, acuh tak acuh, terhadap penderitaan sesama, hidup berfoya-foya.

Ketiga kategori ateis sangat nyata dalam kehidupan bermasyarakat – berbangsa - bernegara. Bahkan, telah ‘mendarah-mendaging’: beranak-pinak. Orang tidak takut dan malu lagi berbuat dosa. Orang tidak lagi bersalah merampas atau merampok hak orang lain. Dari waktu ke waktu, ketiga kategori ATEIS semakin kuat, kokoh, tak tersentuh oleh hukum. Indikasi yang paling “gres” adalah adanya ‘maraknya makelar kasus (markus)’, ‘mafia hokum (maku)’ yang justru mempunyai ‘habitat’ di institusi-institusi penegakan hukum.

Di sisi lain, ‘jebloknya’ integritas penegak hukum, hingga “gerakan jiwa-muni (ketulusan hati nurani)’ siap menggilas Sabang-Merauke. Fenomena “koin untuk Prita’; gerakan milis, dan face book untuk Bibit-Chandra, selayaknya menjadi bahan rethinking dan reposisi lembaga penegak hukum.

Apakah setelah Bibit-Chandra dibebaskan, institusi yang berseteru dengan KPK menjadi lebih dicintai, dibanggakan, dihargai oleh rakyat?

Ternyata, berdasarkan jajak pendapat salah satu koran nasional, tak mengubah posisi di mata rakyat: di bawah 50%. Sedangkan, yang membanggakan-menaruh harapan pemberantasan korupsi pada KPK melonjak lebih 60%.

Hari ini, mari kita nyatakan: Koruptor itu ATEIS. Karna ATEIS, tak punya hak hidup di bumi yang disuburkan dengan jazat dan darah putra-putri terbaik negeri yang kita cintai bersama. Hanya dengan takut akan Tuhan, kita mampu mewujudkan INDONESIA BERSIH. Salam dan Merdeka!(Alonzo Sera Sawaki)



Read more...

KORUPTOR = ATEIS

Ateis (dalam bahasa Yunani: a-theos’ berarti tiada Tuhan. Ateisme adalah sebuah aliran yang menyangkal adanya Tuhan. Atheisme modern terbagi dalam tiga kategori.


Pertama, ateisme militan yang berkeyakinan bahwa tak ada Tuhan. Cabang yang paling menonjol dan tersebar di setiap pelosok dunia adalah komunisme yang mendasarkan arah dan tujuan hidup pada materialismo. Dengan berbagai cara dan halal segala cara akan ditempuh ingá mampu merebut, menumpuk harta kekayaan.
Kedua, atéisme skeptis yang berkeyakinan bahwa batas pikiran manusia tak sanggup menangkap dan memami apakah Tuhan itu ada atau tidak ada. Dalam kehidupan sehari-hari mereka hidup tanpa mengindahkan bahwa Tuhan ada. “Coromemus nos rosis, cras enim moriemur”: Marilah kita nikmati hidup sepuas-puasnya, sebab besok pagi kita mati.
Ketiga, Ateisme praktis menunjuk realitas hidup bahwa Tuhan tetap diyakini, tetapi dalam kehidupan keseharian tak pernah menyentuh dimensi-dimensi hidup. Hidup serba munafik. Penipuan, korupsi, acuh tak acuh, terhadap penderitaan sesama, hidup berfoya-foya.

Ketiga kategori ateis sangat nyata dalam kehidupan bermasyarakat – berbangsa - bernegara. Bahkan, telah ‘mendarah-mendaging’: beranak-pinak. Orang tidak takut dan malu lagi berbuat dosa. Orang tidak lagi bersalah merampas atau merampok hak orang lain. Dari waktu ke waktu, ketiga kategori ATEIS semakin kuat, kokoh, tak tersentuh oleh hukum. Indikasi yang paling “gres” adalah adanya ‘maraknya makelar kasus (markus)’, ‘mafia hokum (maku)’ yang justru mempunyai ‘habitat’ di institusi-institusi penegakan hukum.

Di sisi lain, ‘jebloknya’ integritas penegak hukum, hingga “gerakan jiwa-muni (ketulusan hati nurani)’ siap menggilas Sabang-Merauke. Fenomena “koin untuk Prita’; gerakan milis, dan face book untuk Bibit-Chandra, selayaknya menjadi bahan rethinking dan reposisi lembaga penegak hukum.

Apakah setelah Bibit-Chandra dibebaskan, institusi yang berseteru dengan KPK menjadi lebih dicintai, dibanggakan, dihargai oleh rakyat?

Ternyata, berdasarkan jajak pendapat salah satu koran nasional, tak mengubah posisi di mata rakyat: di bawah 50%. Sedangkan, yang membanggakan-menaruh harapan pemberantasan korupsi pada KPK melonjak lebih 60%.

Hari ini, mari kita nyatakan: Koruptor itu ATEIS. Karna ATEIS, tak punya hak hidup di bumi yang disuburkan dengan jazat dan darah putra-putri terbaik negeri yang kita cintai bersama. Hanya dengan takut akan Tuhan, kita mampu mewujudkan INDONESIA BERSIH. Salam dan Merdeka!(Alonzo Sera Sawaki)



Read more...

REVOLUSI BUDAYA HARUS SEGERA DIWUJUDKAN !!!

Sunday, December 13, 2009

Bangsa Indonesia perlu segera mewujudkan Revolusi Budaya untuk mengikis sifat inferior serta kecenderungan membanggakan produk dan budaya asing.

Salah satu hal yang menghambat kemajuan kita adalah inferioritas. Kita tidak bangga lagi menjadi bangsa, masyarakat kita merasa lebih bergaya jika menggunakan simbol-simbol dan produk-produk asing.

Contohnya, dengan jumlah penduduknya yang besar, Indonesia menjadi pasar yang ramah untuk berbagai produk buatan negara-negara asing. Hal itu juga didukung dengan sikap sebagian masyarakat kita yang gandrung pada hal-hal yang berbau asing.

Kecenderungan itu sangat bertolak belakang dengan prestasi yang dibuat anak bangsa sendiri. Seperti penghargaan terhadap siswa-siswi berprestasi. Setelah tidak lagi ada pemberitaan atau terputus, maka hilang juga perhatian pemerintah terhadap siswa-siswi berprestasi tersebut. Akibatnya, banyak dari mereka yang kemudian meninggalkan Indonesia dan mencari prestasi di negara lain, karena lebih dihargai.

Akibatnya ada masyarakat yang berbudaya xenophobia atau ketakutan yang berlebihan terhadap hal-hal yang berbau asing. Bahkan ada sebagian masyarakat yang mengembangkan budaya xenomania atau mencintai secara berlebihan produk-produk dari asing.

Menyitir pendapat dari Fukuyama, terdapat korelasi antara kebudayaan dengan kemakmuran. Kabudayaan yang diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari masyarakat sangat menentukan bagi kemajuan suatu bangsa (culture matters).

Contoh korelasi kebudayaan dengan kemakmuran adalah membandingkan negara Korea Selatan dengan Ghana. Pada 40 tahun lampau, baik Korea Selatan maupun Ghana adalah pada posisi yang sama. Dua negara itu habis dicabik-cabik oleh perang saudara. Tetapi kini, setelah 40 tahun, kondisinya Korea Selatan jauh meninggalkan Ghana. Korea Selatan masuk dalam jajaran 11 negara industri. Sedangkan Ghana, tetap dalam keterpurukannya.

Dengan adanya negara, sebenarnya membuat manusia itu lebih mudah diatur. Tetapi bukan untuk menjadi bebek. Karena itu negara harus mewujudkan kemakmuran bagi rakyatnya. Negara harus menjadi motivator. (Source :
Alonzo Sera Sawaki


Read more...

REVOLUSI BUDAYA HARUS SEGERA DIWUJUDKAN !!!

Bangsa Indonesia perlu segera mewujudkan Revolusi Budaya untuk mengikis sifat inferior serta kecenderungan membanggakan produk dan budaya asing.

Salah satu hal yang menghambat kemajuan kita adalah inferioritas. Kita tidak bangga lagi menjadi bangsa, masyarakat kita merasa lebih bergaya jika menggunakan simbol-simbol dan produk-produk asing.

Contohnya, dengan jumlah penduduknya yang besar, Indonesia menjadi pasar yang ramah untuk berbagai produk buatan negara-negara asing. Hal itu juga didukung dengan sikap sebagian masyarakat kita yang gandrung pada hal-hal yang berbau asing.

Kecenderungan itu sangat bertolak belakang dengan prestasi yang dibuat anak bangsa sendiri. Seperti penghargaan terhadap siswa-siswi berprestasi. Setelah tidak lagi ada pemberitaan atau terputus, maka hilang juga perhatian pemerintah terhadap siswa-siswi berprestasi tersebut. Akibatnya, banyak dari mereka yang kemudian meninggalkan Indonesia dan mencari prestasi di negara lain, karena lebih dihargai.

Akibatnya ada masyarakat yang berbudaya xenophobia atau ketakutan yang berlebihan terhadap hal-hal yang berbau asing. Bahkan ada sebagian masyarakat yang mengembangkan budaya xenomania atau mencintai secara berlebihan produk-produk dari asing.

Menyitir pendapat dari Fukuyama, terdapat korelasi antara kebudayaan dengan kemakmuran. Kabudayaan yang diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari masyarakat sangat menentukan bagi kemajuan suatu bangsa (culture matters).

Contoh korelasi kebudayaan dengan kemakmuran adalah membandingkan negara Korea Selatan dengan Ghana. Pada 40 tahun lampau, baik Korea Selatan maupun Ghana adalah pada posisi yang sama. Dua negara itu habis dicabik-cabik oleh perang saudara. Tetapi kini, setelah 40 tahun, kondisinya Korea Selatan jauh meninggalkan Ghana. Korea Selatan masuk dalam jajaran 11 negara industri. Sedangkan Ghana, tetap dalam keterpurukannya.

Dengan adanya negara, sebenarnya membuat manusia itu lebih mudah diatur. Tetapi bukan untuk menjadi bebek. Karena itu negara harus mewujudkan kemakmuran bagi rakyatnya. Negara harus menjadi motivator. (Source :
Alonzo Sera Sawaki


Read more...

TIPS MENGATASI KEJENUHAN

Rasa jenuh bisa menimpa kapan saja. Pekerjaan yang monoton adalah salah satu penyebabnya. Beberapa orang menganggap kejenuhan ini sebagai hal yang sepele.


Namun jika tidak segera diatasi, bisa mendatangkan persoalan. Kejenuhan membuat Anda kehilangan semangat dan kreativitas. Ujungnya, kualitas pekerjaan Anda pun akan terganggu. Nah, untuk mengatasi persoalan tersebut berikut tipsnya:

1. Membuat Nyaman Suasana
Siapa yang tak ingin nyaman dalam bekerja? Suasana nyaman di lingkungan tempat bekerja akan membuat Anda merasa lebih nyaman bekerja pula. Nah, untuk mengatasi kejenuhan, buatlah suasana senyaman mungkin di tempat kerja. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk membuat nyaman suasana kerja. Memasang foto keluarga, pernak-pernik kesayangan, hingga memasang alat musik bisa Anda lakukan.

2. Desain Baru
Suasana nyaman yang Anda buat lebih mampu mengusir rasa bosan, mungkin trik lain bisa dicoba. Mengubah desain ruangan Anda misalnya. Tak harus mengubah secara besar-besaran, perubahan kecil juga bisa kok. Misalnya menggeser letak meja, atau mengubah letak file kabinet. Selain desain baru, tak ada salahnya juga Anda tampil dengan dandanan baru.

3. Perluas Wawasan
Ilmu tak ada batasnya alias terus berkembang sesuai perkembangan zaman. Nah, manusia pun harus terus meng-update ilmu agar tak ketinggalan zaman. Selain itu menambah wawasan atau belajar juta menjadi trik ampuh pengusir kejenuhan. Dengan menambah wawasan, Anda pun akan menemui sesuatu yang baru. Dan ini akan menarik perhatian Anda. Banyak cara untuk menambah wawasan.

4 Cari Tantangan Baru
Bosan adalah perasaan alamiah yang bisa terjadi pada siapa saja. Mulai anak-anak hingga dewasa. Ibarat sebuah barang, satu baru kita miliki, kita akan sangat tertarik dibuatnya, sebulan kemudian tingkat ketertarikan mungkin sudah mulai berkurang. Untuk mengatasi kebosanan, Anda bisa melakukan hal baru. Seperti melakukan hobi yang menyenangkan, rileks sambil melakukan perawatan tubuh, atau masuk komunitas hobi. Kegiatan tersebut sedikit banyak akan mampu mengurangi kejenuhan.

5. Cuti dan Liburan
Di antara beberapa tips di atas, mungkin cara inilah yang paling jitu untuk mengusir rasa bosan. Ambil cuti dan liburlah di tempat yang Anda pakai. Bila mungkin, cuti panjang akan lebih menyenangkan. Namun, bila hak cuti sudah habis, tak perlu risau. Anda bisa memanfaatkan hari Sabtu dan Minggu untuk menikmati liburan. Berlibur tak harus mengunjung tempat wisata. Makan bersama keluarga di restoran favorit juga bisa dicoba.

sumber:
Sumber Motivasi

Read more...

Menanti Sikap Kritis Konstruktif Mahasiswa

Saturday, December 12, 2009

Mahasiswa adalah sosok yang selalu dinilai memiliki idealisme. Sikap kritis dan kepekaan sosial menjadi karakter khas mahasiswa. Memang benar mahasiswa memiliki peran signifikan dalam laju perjalanan bangsa, namun bukan berarti mahasiswa tanpa cela. Secara faktual, mahasiswa terbagi dalam dua tipe: ordinary student atau extraordinary student. Mahasiswa biasa-biasa saja atau mahasiswa luar biasa. Benarkah mahasiswa akan berkiprah nyata dan peduli pada kehidupan bangsa? Berperankah mahasiswa dalam mengontrol roda pemerintahan?

Mahasiswa tipe ordinary student adalah mahasiswa yang pasif. Menurut Dwi Budiyanto (2005), mahasiswa tipe ini adalah mahasiswa yang enggan terlibat dalam aktivitas perubahan sosial. Mahasiswa tipe ordinary student tidak memiliki kepekaan terhadap kondisi di tengah masyarakat. Mahasiswa tipe ini bukan berarti tidak memiliki potensi dan kapasitas. Mungkin memiliki kapasitas, namun mahasiswa tipe ini enggan mananggung resiko-resiko untuk menjadi bagian dari perubahan.

Mahasiswa tipe ordinary student seperti disindir Saratri Wilonoyudho (2008) yang terjebak di dunia “kapitalistik”. Berangkat ke kampus sekadar ”ritual” saja, tanpa niat tulus untuk mengembangkan intelektualitasnya. Indikatornya adalah malasnya mengerjakan tugas, malas membeli buku, malas membaca, malas menulis, malas berdiskusi dalam kelas, dan lain-lain. Mahasiswa hanya sibuk menyembah simbol-simbol keilmuan tanpa ”nafsu” dan perasaan untuk mengembangkannya. Targetnya sederhana, dapat ”simbol” intelektual yang berupa ijazah, diterima bekerja di pabrik dengan harapan hidup kaya raya sebagaimana diajarkan di TV-TV swasta negeri ini. Pertanyaannya, seberapa besar prosentase mahasiswa tipe ordinary student?

Sebagai bagian dari pemuda yang memperoleh pendidikan tinggi, mahasiswa dituntut mampu berperan lebih. Mahasiswa tipe ordinary student tidak akan memberikan kontribusi positif bagi setiap upaya perbaikan kehidupan bangsa dan negara. Tentu saja, refleksi kritis perlu dilakukan mahasiswa dengan mempertanyakan eksistensi dirinya dalam arus perubahan sosial. Mahasiswa dituntut menjadi mahasiswa tipe extraordinary student yang selalu memiliki idealisme, sikap kritis, kepekaan dan kepedulian sosial, dan keberanian menyatakan kebenaran. Jalannya roda pemerintahan merupakan salah satu bagian dari ruang kontribusi mahasiswa. Menyaksikan fakta pemerintahan yang belum sepenuhnya berjalan baik dan berpihak pada kemaslahatan masyarakat, mahasiswa perlu bertanggung jawab melakukan kontrol lewat sikap kritis- konstruktif.

Dalam mengawal jalannya pemerintahan, mahasiswa tidak saja berhenti pada aksi demonstrasi semata, namun juga dituntut mampu memberikan tawaran-tawaran solutif terhadap permasalahan bangsa. Maka, pusat analisis dan kajian kebijakan perlu didirikan dalam gerakan/organisasi kemahasiswaan. Sisi intelektualitas mahasiswa perlu ditunjukkan dengan menguasai permasalahan dan strategi pemecahannya. Hubungan interaktif gerakan/ organisasi kemahasiswaan dengan pemerintah perlu dijalin. Untuk mengontrol pemerintah, mahasiswa tak ada salahnya mendesak pemerintah untuk mengadakan temu interaktif dengan pihak mahasiswa. Selain itu, mahasiswa sudah saatnya berani “berperang” dengan tulisan dalam mengkritisi dan mengawasi jalannya pemerintahan. Siapkah mahasiswa memiliki sikap kritis-konstruktif terhadap jalannya pemerintahan? Wallahu a’lam. (*)


(Sumber: Irmayanti Sha/Kumunitas Habelino)
Penulis: Aktivis Transform Institute, bekerja di Universitas Negeri Yogyakarta

Read more...

Menanti Sikap Kritis Konstruktif Mahasiswa

Mahasiswa adalah sosok yang selalu dinilai memiliki idealisme. Sikap kritis dan kepekaan sosial menjadi karakter khas mahasiswa. Memang benar mahasiswa memiliki peran signifikan dalam laju perjalanan bangsa, namun bukan berarti mahasiswa tanpa cela. Secara faktual, mahasiswa terbagi dalam dua tipe: ordinary student atau extraordinary student. Mahasiswa biasa-biasa saja atau mahasiswa luar biasa. Benarkah mahasiswa akan berkiprah nyata dan peduli pada kehidupan bangsa? Berperankah mahasiswa dalam mengontrol roda pemerintahan?

Mahasiswa tipe ordinary student adalah mahasiswa yang pasif. Menurut Dwi Budiyanto (2005), mahasiswa tipe ini adalah mahasiswa yang enggan terlibat dalam aktivitas perubahan sosial. Mahasiswa tipe ordinary student tidak memiliki kepekaan terhadap kondisi di tengah masyarakat. Mahasiswa tipe ini bukan berarti tidak memiliki potensi dan kapasitas. Mungkin memiliki kapasitas, namun mahasiswa tipe ini enggan mananggung resiko-resiko untuk menjadi bagian dari perubahan.

Mahasiswa tipe ordinary student seperti disindir Saratri Wilonoyudho (2008) yang terjebak di dunia “kapitalistik”. Berangkat ke kampus sekadar ”ritual” saja, tanpa niat tulus untuk mengembangkan intelektualitasnya. Indikatornya adalah malasnya mengerjakan tugas, malas membeli buku, malas membaca, malas menulis, malas berdiskusi dalam kelas, dan lain-lain. Mahasiswa hanya sibuk menyembah simbol-simbol keilmuan tanpa ”nafsu” dan perasaan untuk mengembangkannya. Targetnya sederhana, dapat ”simbol” intelektual yang berupa ijazah, diterima bekerja di pabrik dengan harapan hidup kaya raya sebagaimana diajarkan di TV-TV swasta negeri ini. Pertanyaannya, seberapa besar prosentase mahasiswa tipe ordinary student?

Sebagai bagian dari pemuda yang memperoleh pendidikan tinggi, mahasiswa dituntut mampu berperan lebih. Mahasiswa tipe ordinary student tidak akan memberikan kontribusi positif bagi setiap upaya perbaikan kehidupan bangsa dan negara. Tentu saja, refleksi kritis perlu dilakukan mahasiswa dengan mempertanyakan eksistensi dirinya dalam arus perubahan sosial. Mahasiswa dituntut menjadi mahasiswa tipe extraordinary student yang selalu memiliki idealisme, sikap kritis, kepekaan dan kepedulian sosial, dan keberanian menyatakan kebenaran. Jalannya roda pemerintahan merupakan salah satu bagian dari ruang kontribusi mahasiswa. Menyaksikan fakta pemerintahan yang belum sepenuhnya berjalan baik dan berpihak pada kemaslahatan masyarakat, mahasiswa perlu bertanggung jawab melakukan kontrol lewat sikap kritis- konstruktif.

Dalam mengawal jalannya pemerintahan, mahasiswa tidak saja berhenti pada aksi demonstrasi semata, namun juga dituntut mampu memberikan tawaran-tawaran solutif terhadap permasalahan bangsa. Maka, pusat analisis dan kajian kebijakan perlu didirikan dalam gerakan/organisasi kemahasiswaan. Sisi intelektualitas mahasiswa perlu ditunjukkan dengan menguasai permasalahan dan strategi pemecahannya. Hubungan interaktif gerakan/ organisasi kemahasiswaan dengan pemerintah perlu dijalin. Untuk mengontrol pemerintah, mahasiswa tak ada salahnya mendesak pemerintah untuk mengadakan temu interaktif dengan pihak mahasiswa. Selain itu, mahasiswa sudah saatnya berani “berperang” dengan tulisan dalam mengkritisi dan mengawasi jalannya pemerintahan. Siapkah mahasiswa memiliki sikap kritis-konstruktif terhadap jalannya pemerintahan? Wallahu a’lam. (*)


(Sumber: Irmayanti Sha/Kumunitas Habelino)
Penulis: Aktivis Transform Institute, bekerja di Universitas Negeri Yogyakarta

Read more...

PEMUDA, HARAPAN ATAU BEBAN

(Catatan 81 Tahun Sumpah Pemuda)

“HARI sudah siang, matahari tepat berada di atas kepala. Namun, Supriyadi (30), masih asyik menikmati tayangan televisi, sambil menanti cucian yang dijemurnya kering. Supriyadi terpaksa mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena ia menganggur. Hidup Supriyadi sepenuhnya bergantung pada isterinya yang bekerja sebagai buruh garmen di kota Tangerang” (Kompas, 26/8/06).

Penggalan kisah Supriyadi di atas adalah potret buram kebanyakan nasib anak muda negeri ini. Jika kita menilik dari sisi demografis, pemuda sesunguhnya adalah strata sosial yang berada pada fase usia paling dinamis dan produktif.

Ditinjau dari sisi historis, pemuda adalah sebuah entitas yang telah membuktikan dirinya sebagai aktor penting perubahan sosial (agent of social changes). Pemuda 08’ misalnya, berhasil memupuk bibit nasionalisme Indonesia, pemuda angkatan 28’ sukses menggalang ideologi persatuan nasional, dan pemuda angkatan 45’ berhasil mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa.


Namun di era industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi tinggi saat ini, eksistensi pemuda lebih dilihat sebagai beban ketimbang harapan. Banyaknya pemuda yang putus sekolah, menganggur, dan bekerja serabutan adalah fakta yang sulit dibantah.

Di Asia Tenggara, dalam sepuluh tahun terakhir (1995-2005), jumlah generasi muda usia 15-24 tahun yang menganggur berjumlah 85 juta orang (meningkat 15 persen). Saat ini, sekitar 300 juta pemuda diprediksi hidup dengan penghasilan kurang dari dua dolar AS per hari ("Global Employment Trends for Youth", ILO, 2006)

Data Survei Tenaga Kerja Nasional (Sakernas) pada Februari 2006 menunjukkan, jumlah angkatan kerja tercatat 106,3 juta jiwa, sementara kesempatan kerja yang tersedia hanya 95,2 juta jiwa. Artinya, 11,1 juta jiwa atau 10,4 persen angkatan kerja—yang umumnya berusia muda—tergolong penganggur (Kompas, 8/9/06).

Data Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga (2008) juga mencatat, dari 220 juta jiwa jumlah penduduk Indonesia, sekitar 80,6 juta orang adalah pemuda. Namun, 10,8 juta pemuda yang berusia antara 15-35 berstatus sebagai menganggur (baik terbuka maupun terselubung). Kondisi ini terjadi akibat rendahnya kesempatan kerja dan kurangnya upaya wirausaha dari kalangan pemuda (Detikcom, 11/06/08).

Rendahnya Tingkat Partisipasi Angkatan kerja (TPAK) ini diakibatkan oleh banyaknya penduduk usia kerja yang kembali sekolah, mengurus rumah tangga, atau bekerja serabutan. Di dalamnya termasuk korban pemutusan hubungan kerja (PHK) dan orang yang menyerah mencari kerja. Seandainya kelompok ini dimasukkan sebagai kategori “pencari kerja”, maka angka pengangguran tentu akan lebih fantastis lagi. Data bulan Agustus 2002-Februari 2006 menunjukkan, jumlah kelompok ini telah mencapai angka 740.000-1,5 juta orang (Kompas, 15/4/06).

Situasi ini jelas membingungkan. Di tengah SDM pemuda yang melimpah, bukan produktivitas nasional yang tumbuh, tapi pengangguran dan kemiskinan. Fenomena di atas memberi gambaran pada kita, betapa pemerintah belum memiliki agenda pembangunan kepemudaan yang jelas, terutama terkait skenario di sektor pendidikan dan pengembangan sumberdaya manusia pemuda.

Menurut data BPS (2008), dari 100 penduduk Indonesia terdapat 15 orang miskin. Artinya, secara total masih ada 35.000.000 penduduk miskin. Kendati Presiden SBY menyebut jumlah kemiskinan tahun 2008 merupakan jumlah terendah selama 10 tahun terakhir, namun data BPS menunjukkan, perbedaan angka jumlah orang miskin tahun 2004 dan tahun 2008 hanya 100.000 jiwa. Jika tahun 2004 dana pemerintah untuk pengentasan kemiskinan berjumlah Rp 19 triliun, kini dana penanggulangan kemiskinan mencapai empat kali lipatnya.

Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin situasi pengangguran masif yang pernah dialami AS pada 1930-an akan terjadi di negeri ini. Saat itu, rakyat dan pemerintah AS menghadapi problem pelik: lemahnya daya beli rakyat, pengangguran dan PHK massal, meluasnya kemiskinan, dan kebangkrutan usaha dimana-mana.

Menghadapi situasi itu, Presiden Franklin Delano Rosevelt meluncurkan paket kebijakan ekonomi New Deal. Kebijakan ini berinti pada pebukaan lapangan kerja secara besar-besaran. Dam, pembangkit listrik, rel kereta api, jembatan, sekolah, kantor pos, dan berbagai infrastruktur baru dibangun dengan pola padat karya. Pemuda yang menganggur dikerahkan untuk membersihkan pantai, memperbaiki drainase, mengerjakan proyek reboisasi, hingga membangun berbagai fasilitas sosial. Hasilnya, ekonomi pulih, fasilitas infrastruktur membaik, dan problem pengangguran masif bisa terpecahkan.

Kebijakan FDR, memberi inspirasi pada kita bahwa generasi muda bisa menjadi tulang-punggung dalam pembangunan ekonomi bangsa. Masalahnya, hingga kini, belum terlihat upaya serius pemerintah membuat peta jalan pemberdayaan ekonomi pemuda dengan memanfaatkan potensi besar yang ada pada pemuda.

Jalan demokratisasi yang sudah kita rintis dengan susah payah sejatinya bisa menghadirkan kehidupan generasi muda yang lebih berkualitas. Makna “Sumpah Pemuda” pada akhirnya bemuara pada sejauh mana negara bisa bertanggung jawab atas masa depan generasi ini. Sebab, sulit mengharapkan demokrasi, kesejahteraan, dan keadilan sosial bisa berdiri tegak di tengah langkanya kreatifitas, inovasi, dan produktivitas orang muda. ***

Penulis adalah Program Officer ALNI Indonesia;
Redaktur Jurnal Sosial Demokrasi

L A U N A, SIP., MM

Read more...

PEMUDA, HARAPAN ATAU BEBAN

(Catatan 81 Tahun Sumpah Pemuda)

“HARI sudah siang, matahari tepat berada di atas kepala. Namun, Supriyadi (30), masih asyik menikmati tayangan televisi, sambil menanti cucian yang dijemurnya kering. Supriyadi terpaksa mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena ia menganggur. Hidup Supriyadi sepenuhnya bergantung pada isterinya yang bekerja sebagai buruh garmen di kota Tangerang” (Kompas, 26/8/06).

Penggalan kisah Supriyadi di atas adalah potret buram kebanyakan nasib anak muda negeri ini. Jika kita menilik dari sisi demografis, pemuda sesunguhnya adalah strata sosial yang berada pada fase usia paling dinamis dan produktif.

Ditinjau dari sisi historis, pemuda adalah sebuah entitas yang telah membuktikan dirinya sebagai aktor penting perubahan sosial (agent of social changes). Pemuda 08’ misalnya, berhasil memupuk bibit nasionalisme Indonesia, pemuda angkatan 28’ sukses menggalang ideologi persatuan nasional, dan pemuda angkatan 45’ berhasil mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa.


Namun di era industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi tinggi saat ini, eksistensi pemuda lebih dilihat sebagai beban ketimbang harapan. Banyaknya pemuda yang putus sekolah, menganggur, dan bekerja serabutan adalah fakta yang sulit dibantah.

Di Asia Tenggara, dalam sepuluh tahun terakhir (1995-2005), jumlah generasi muda usia 15-24 tahun yang menganggur berjumlah 85 juta orang (meningkat 15 persen). Saat ini, sekitar 300 juta pemuda diprediksi hidup dengan penghasilan kurang dari dua dolar AS per hari ("Global Employment Trends for Youth", ILO, 2006)

Data Survei Tenaga Kerja Nasional (Sakernas) pada Februari 2006 menunjukkan, jumlah angkatan kerja tercatat 106,3 juta jiwa, sementara kesempatan kerja yang tersedia hanya 95,2 juta jiwa. Artinya, 11,1 juta jiwa atau 10,4 persen angkatan kerja—yang umumnya berusia muda—tergolong penganggur (Kompas, 8/9/06).

Data Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga (2008) juga mencatat, dari 220 juta jiwa jumlah penduduk Indonesia, sekitar 80,6 juta orang adalah pemuda. Namun, 10,8 juta pemuda yang berusia antara 15-35 berstatus sebagai menganggur (baik terbuka maupun terselubung). Kondisi ini terjadi akibat rendahnya kesempatan kerja dan kurangnya upaya wirausaha dari kalangan pemuda (Detikcom, 11/06/08).

Rendahnya Tingkat Partisipasi Angkatan kerja (TPAK) ini diakibatkan oleh banyaknya penduduk usia kerja yang kembali sekolah, mengurus rumah tangga, atau bekerja serabutan. Di dalamnya termasuk korban pemutusan hubungan kerja (PHK) dan orang yang menyerah mencari kerja. Seandainya kelompok ini dimasukkan sebagai kategori “pencari kerja”, maka angka pengangguran tentu akan lebih fantastis lagi. Data bulan Agustus 2002-Februari 2006 menunjukkan, jumlah kelompok ini telah mencapai angka 740.000-1,5 juta orang (Kompas, 15/4/06).

Situasi ini jelas membingungkan. Di tengah SDM pemuda yang melimpah, bukan produktivitas nasional yang tumbuh, tapi pengangguran dan kemiskinan. Fenomena di atas memberi gambaran pada kita, betapa pemerintah belum memiliki agenda pembangunan kepemudaan yang jelas, terutama terkait skenario di sektor pendidikan dan pengembangan sumberdaya manusia pemuda.

Menurut data BPS (2008), dari 100 penduduk Indonesia terdapat 15 orang miskin. Artinya, secara total masih ada 35.000.000 penduduk miskin. Kendati Presiden SBY menyebut jumlah kemiskinan tahun 2008 merupakan jumlah terendah selama 10 tahun terakhir, namun data BPS menunjukkan, perbedaan angka jumlah orang miskin tahun 2004 dan tahun 2008 hanya 100.000 jiwa. Jika tahun 2004 dana pemerintah untuk pengentasan kemiskinan berjumlah Rp 19 triliun, kini dana penanggulangan kemiskinan mencapai empat kali lipatnya.

Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin situasi pengangguran masif yang pernah dialami AS pada 1930-an akan terjadi di negeri ini. Saat itu, rakyat dan pemerintah AS menghadapi problem pelik: lemahnya daya beli rakyat, pengangguran dan PHK massal, meluasnya kemiskinan, dan kebangkrutan usaha dimana-mana.

Menghadapi situasi itu, Presiden Franklin Delano Rosevelt meluncurkan paket kebijakan ekonomi New Deal. Kebijakan ini berinti pada pebukaan lapangan kerja secara besar-besaran. Dam, pembangkit listrik, rel kereta api, jembatan, sekolah, kantor pos, dan berbagai infrastruktur baru dibangun dengan pola padat karya. Pemuda yang menganggur dikerahkan untuk membersihkan pantai, memperbaiki drainase, mengerjakan proyek reboisasi, hingga membangun berbagai fasilitas sosial. Hasilnya, ekonomi pulih, fasilitas infrastruktur membaik, dan problem pengangguran masif bisa terpecahkan.

Kebijakan FDR, memberi inspirasi pada kita bahwa generasi muda bisa menjadi tulang-punggung dalam pembangunan ekonomi bangsa. Masalahnya, hingga kini, belum terlihat upaya serius pemerintah membuat peta jalan pemberdayaan ekonomi pemuda dengan memanfaatkan potensi besar yang ada pada pemuda.

Jalan demokratisasi yang sudah kita rintis dengan susah payah sejatinya bisa menghadirkan kehidupan generasi muda yang lebih berkualitas. Makna “Sumpah Pemuda” pada akhirnya bemuara pada sejauh mana negara bisa bertanggung jawab atas masa depan generasi ini. Sebab, sulit mengharapkan demokrasi, kesejahteraan, dan keadilan sosial bisa berdiri tegak di tengah langkanya kreatifitas, inovasi, dan produktivitas orang muda. ***

Penulis adalah Program Officer ALNI Indonesia;
Redaktur Jurnal Sosial Demokrasi

L A U N A, SIP., MM

Read more...

RAHASIA ANGIN

Yang namanya angin memang sulit wataknya. Apalagi kalau ia sampai bernama badai. Entah itu taifun, tornado, hurricane (dari bahasa Indian "urican") yang artinya mahaangin atau monsun (dari bahasa Arab "mausiam" = musim).

Mereka turun sesuka hati pada saat yang sulit diduga-duga dan tak peduli siapa pun. Mangsanya tak pandang bulu. Istana raja atau gubuk buruk rakyat jelata diobrak-abrik sampai tak berbentuk. Mobil mewah atau yang sudah karatan yang tengah melaju atau yang sedang parkir dijungkirbalikkan tanpa ampun. Malah kereta api seolah diangkat hanya dengan jari kelingkingnya. Pohon yang tinggi menjulang tumbang lengkap dengan akar-akarnya. Samudra pun menjadi garang membuat manusia gentar tak berdaya.

Eh, tapi siapa bilang angin dan badai cuma dewa perusak? Manfaat angin tentu Anda semua lebih tahu. Angin sebagai pengatur suhu dan penyejuk udara. Tanpa angin yang sejuk nyaman, bagaimana kita di Tanah Air bisa duduk berangin-angin? Tanpa angin mustahil bagi berbagai tumbuhan untuk melanjutkan keturunan. Lalu coba tanya para pelaut yang ulet. Bila layar perahu sudah terkembang, apa yang masih mereka nantikan? Sang angin tentu saja. Yang unik ialah hampir sebagian besar badai "perempuan", lihat saja namanya, Betsy, Katrin, Anita, dan lain-lainl. Sekedar menyebut beberapa tapi kalau mythologi dapat dipercaya maka hampir semua dewa angin adalah pria, kekar dan menggemparkan, misalnya Aeolus, dewa angin Yunani yang perkasa dan atletis. Angin sungguh bebas dan rupanya punya rahasia.

Anda mungkin masih ingat kisah matahari dan sang angin? Adalah angin dan matahari sedang bercengkerama ketika seorang pria bermantel dan bertopi lewat. Ayo, kata sang angin, mari kita taruhan, siapa dari kita berdua yang bisa melepaskan topi dan mantel pria itu. Matahari setuju. Angin mulai berhembus. Mula-mula sepoi-sepoi tetapi makin lama makin kencang. Semakin kencang angin menghantam, semakin erat pria itu menahan topi dan mantelnya. Jalannya semakin terbungkuk-bungkuk dan tangannya sibuk menahan topi dan mantel agar tidak terlepas. Angin semakin beringas. Tetapi sia-sia. Pria itu erat-erat menahan topi dan mengeratkan mantelnya.

Akhirnya angin menyerah. Giliran matahari yang mulai beraksi. Makin lama makin panas. Pria itu mulai membuka kancing mantelnya. Matahari kirim teriknya. Si lelaki itu berkeringat. Dalam sekejap mata topi dan mantel sudah ditanggalkannya. Rahasianya? Kata matahari sambil berkedip kepada angin. "Tak perlu heboh-heboh dan gempar. Pelan tapi pasti, itulah kiatnya."

Ternyata bukan hanya angin punya rahasia, matahari juga.

Manusia apalagi. Seperti seorang gadis Gypsy (kaum yang hidupnya berkelana, sebebas angin) yang sungguh jelita oleh baginda raja ditanya apakah mau menjadi isterinya yang kesekian. Hadiah seribu satu tersedia, apa saja yang diminta pasti terkabul. Rumah mewah bagaikan istana jangan ditanya lagi. Jawab si gadis ringkas dan tegas, "Mohon maaf yang mulia, bisakah Baginda menangkap angin?"

(Sumber: Irmayanti Sha/Kumonitas Habelino) 

Read more...

RAHASIA ANGIN

Yang namanya angin memang sulit wataknya. Apalagi kalau ia sampai bernama badai. Entah itu taifun, tornado, hurricane (dari bahasa Indian "urican") yang artinya mahaangin atau monsun (dari bahasa Arab "mausiam" = musim).

Mereka turun sesuka hati pada saat yang sulit diduga-duga dan tak peduli siapa pun. Mangsanya tak pandang bulu. Istana raja atau gubuk buruk rakyat jelata diobrak-abrik sampai tak berbentuk. Mobil mewah atau yang sudah karatan yang tengah melaju atau yang sedang parkir dijungkirbalikkan tanpa ampun. Malah kereta api seolah diangkat hanya dengan jari kelingkingnya. Pohon yang tinggi menjulang tumbang lengkap dengan akar-akarnya. Samudra pun menjadi garang membuat manusia gentar tak berdaya.

Eh, tapi siapa bilang angin dan badai cuma dewa perusak? Manfaat angin tentu Anda semua lebih tahu. Angin sebagai pengatur suhu dan penyejuk udara. Tanpa angin yang sejuk nyaman, bagaimana kita di Tanah Air bisa duduk berangin-angin? Tanpa angin mustahil bagi berbagai tumbuhan untuk melanjutkan keturunan. Lalu coba tanya para pelaut yang ulet. Bila layar perahu sudah terkembang, apa yang masih mereka nantikan? Sang angin tentu saja. Yang unik ialah hampir sebagian besar badai "perempuan", lihat saja namanya, Betsy, Katrin, Anita, dan lain-lainl. Sekedar menyebut beberapa tapi kalau mythologi dapat dipercaya maka hampir semua dewa angin adalah pria, kekar dan menggemparkan, misalnya Aeolus, dewa angin Yunani yang perkasa dan atletis. Angin sungguh bebas dan rupanya punya rahasia.

Anda mungkin masih ingat kisah matahari dan sang angin? Adalah angin dan matahari sedang bercengkerama ketika seorang pria bermantel dan bertopi lewat. Ayo, kata sang angin, mari kita taruhan, siapa dari kita berdua yang bisa melepaskan topi dan mantel pria itu. Matahari setuju. Angin mulai berhembus. Mula-mula sepoi-sepoi tetapi makin lama makin kencang. Semakin kencang angin menghantam, semakin erat pria itu menahan topi dan mantelnya. Jalannya semakin terbungkuk-bungkuk dan tangannya sibuk menahan topi dan mantel agar tidak terlepas. Angin semakin beringas. Tetapi sia-sia. Pria itu erat-erat menahan topi dan mengeratkan mantelnya.

Akhirnya angin menyerah. Giliran matahari yang mulai beraksi. Makin lama makin panas. Pria itu mulai membuka kancing mantelnya. Matahari kirim teriknya. Si lelaki itu berkeringat. Dalam sekejap mata topi dan mantel sudah ditanggalkannya. Rahasianya? Kata matahari sambil berkedip kepada angin. "Tak perlu heboh-heboh dan gempar. Pelan tapi pasti, itulah kiatnya."

Ternyata bukan hanya angin punya rahasia, matahari juga.

Manusia apalagi. Seperti seorang gadis Gypsy (kaum yang hidupnya berkelana, sebebas angin) yang sungguh jelita oleh baginda raja ditanya apakah mau menjadi isterinya yang kesekian. Hadiah seribu satu tersedia, apa saja yang diminta pasti terkabul. Rumah mewah bagaikan istana jangan ditanya lagi. Jawab si gadis ringkas dan tegas, "Mohon maaf yang mulia, bisakah Baginda menangkap angin?"

(Sumber: Irmayanti Sha/Kumonitas Habelino) 

Read more...

Ebout Me

Thursday, December 10, 2009

Welcome To My Page........



Read more...

Ebout Me

Welcome To My Page........



Read more...

Kata Mereka

This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by Phaul Heger
PAPUA SONG Gratisan Lada Papua Barat

Go :

Free Website Hosting

Translate

Blog2Print

Lorem Ipsum

Our Blogger Templates Web Design



Total Pageviews

KU TAK INGIN

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP