Ko Cari Di Sini

Google
 
Web HegerMa Blog

Harapan Kebahagian

Sunday, January 31, 2010

Kebahagian yang kurasakan saat ini
Kehadiran dirimu disisiku semangati diriku
Kuingin selalu bersamamu
Dalam suka dan duka

Suka dan duka cerita kehidupan
Kita alami dengan senyum
Kita lewati dengan kasih
Kemesraan biarlah terjaga

Semua demi kita berdua
Jalani apa adanya
Ku akan selalu menjagamu
Ditiap tarikan nafasmu…
Kasih Percayalah

Tak akan ku biarkan kau bersedih
Tak akan ku biarkan kau menangis
Tak akan kubiarkan kau berjalan sendiri
Untukmu segala hal akan kulakukan.


Read more...

TIPS MENJAUHKAN DIRI DARI MIRAS

Wednesday, January 27, 2010

Apa yang membuat orang cenderung untuk masuk kedalam pergaulan miras dan sejenisnya?
Ada beberapa hal yang kadang membuat seseorang terjerumus ke dalam hal itu dan menjadi seorang pengkonsumsi yang kehidupannya tiada hari tanpa miras.......
berawal dari :

1. Ingin coba-coba sesuai dengan perkembangan zaman.
2. Dengan mengkonsumsi miras dianggap telah dewasa
3. Berani untuk melakukan tindakan apa saja
4. Menunjukan diri lebih baik dengan miras
5. Adanya persoalan yang selalu disimpan dihati
6. Mengikuti gaya hidup & budaya orang lain
7. Pengaruh lingkungan
8. Dll

Bagaimana solusi dan cara yang tepat untuk menghilangkan hal itu?
Karena sudah terbiasa atau sering sehingga tidak mungkin untuk sekali berhenti dan langsung bisa berhenti, yang pasti ada tahapan dari frekuensi minum diawal setiap hari bisa dikurangi hingga berhenti total.

Berikut ini beberapa tips dari saya untuk anda-anda yang saat ini masih suka dan sering mengkonsumsi MIRAS (Minuman Keras) antara lain :

1. Saat kita sedang dalam suatu masalah, cobalah untuk berbagi dengan orang disekitar kita.
2. Mencari ruang gerak pergaulan yang berbeda.
3. Mendoktrin diri, dengan melakukan hal yang lain
4. Pengalihan perhatian saat kepingin mengkonsumsi miras
5. Kurangi frekuensi miras, 1 minggu jd xi dan 1 bulan 2x, dlm 2-3 bulan bisa berhenti
6. Banyak-banyak melibatkan diri diberbagai kegiatan yang tidak berkaitan dengan miras
7. Refresing
8. Dll

Namun semua itu kembali ke diri kita masing2 apakah kita bisa dan mampu dan berkomiten untuk berhenti atau kita masih mau dijajah oleh miras dan lain sebagainya?



Read more...

MENJAGA KEBERSAMAAN


Tanpa disadari kehidupan yang kita jalani saat ini, bukan hanya kita sendiri, ada sekian banyak orang disekitar kita. Ada saudara dekat kita, ada sepupu kita ada teman yang baru kita kenal maupun teman yang baru kita kenal. Ada orang yang tua, ada anak-anak yang kecil, ada tetangga-tetangga disekitar; Semua itu ada disekitar kita dan bersama-sama dengan kita melalui masa ini.

Jika kita cerna semua ini dalam hal pergaulan maka kita akan menjalani semua itu dengan sangat luarbiasa, kita akan mencintai kehidupan yang Tuhan berikan ini, keaneka ragaman kehidupan sosial disekitar kita. Kita tak akan merasa sendiri bila tak ada orang disekitar kita yang bisa kita ajak untuk berbagi cerita. Entah cerita tentang hal-hal yang sepele ataupun hal-hal yang menyangkut sesuatu dan kita butuh pendapat dari orang disekitar kita.

Ikatan emosional kesukuan yang nyata membuat semua perbedaan seakan menjadi nyata. Kita yang berasal dari suku tertentu akan cenderung bergaul dengan sukunya saja, tanpa peduli dengan suku lain. Kita hanya melihat suku ini atau suku itu dari sudut pengamatan kita, tanpa kita lihat dari sudut pengamatan suku yang bersangkutan, kurangnya inisiatif dari kita masing-masing, untuk mencoba membuka diri dan bergaul dengan orang-orang disekitar kita. Berusaha untuk memahami tata cara kehidupan mereka, dan dengan begitu kita dapat mengetahui hal-hal mana yang baik yang dapat kita jalani bersama mereka.

Langkah apakah yang harus kita ambil sebagai penghuni bumi untuk saat ini, bagaimana kita memandang dan menjaga kebersamaan biarlah terbina dan terjaga dengan baik tanpa ada rasa iri yang membuat kita semakin terpuruk. Kita kembali ke inisiatif kita masing-masing untuk saling menjaga harmonisasi kehidupan disekitar kita, bila ada hal yang menyangkut kita cobalah untuk duduk dengan bijak dan membahas untuk mencari solusi dan jalan keluar dari permasalahan yang terjadi. Dengan demikian kita dapat menjaga kebersamaan itu.....

Catatan Kehidupan Oleh : Phaul Heger

Read more...

Seperti Kemarin

Tuesday, January 19, 2010

Waktu terus berlalu seirama
siang berganti ke malam dan malam berganti
ada tangisan yang memilukan,
dan ada ratapan bahagia yg menggema
semua menjadi satu dala rona kehidupan
warna warni jalan ini
dan lika liku kehidupan

Tak disadari apa yang kemarin
kita buat, seperti terulang dihari ini
hidup ini hanya sebentar
masih seperti kemarin
kita berbuat, kita merasakan

hempaskan segala asa padanya
ucapan syukur, puji dan hormat
hanya seakan cerita lama yang diulang

dan lagi masih seperti kemarin
luka lama yang ditinggalkan berlalu
apa lagi yang harus kita buat
katanya kita telah berubah?

untuk menggapai mimpi, kita harus terbangun
nyatakan dalam sikap bukan dalam selimut
kemarin adalah sejarah yang kita lewati
kenyataan hidup hari ini
bercerita lain........


PhaulHeger
Jogja, 20 Jan 2010

Read more...

Kebersamaan Kita

Sunday, January 17, 2010

Seiring langkahku menapaki jalan ini
Hujan yang turun, membasahi tubuhku
Dengan langkah yang pasti terus kumelangkah
Membelah malam mengantarnya kembali

Berdua lalui waktu ini, bukan baru kemarin
Berdua lalui bukan untuk sesaat
Ada saatnya ku buat kesalahan
Seringkali tak pantas kulakukan tapi itulah
Seni kehidupan, ada salah ada benar

Hari ini kita masih bersama
Hari ini kita berja
lan bersama dibawah gerimis
Disore yang menjelang ditutupi gelapnya malam yang akan datang
Dirimu tempatku sandarkan harapanku untuk masa depan

Oh Tuhan sertai kami dalam langkah-langkah kami....




Read more...

REVOLUSI BUDAYA

Demokrasi dimulai dengan seorang buruk muka yang dipukul punggungnya. Namanya Thersites, tokoh yang tak banyak dikenal dalam puisi Iliad karya Homeros dari sekitar abad ke-9 Sebelum Masehi.

Dalam kisah para raja dan pangeran yang membawa ribuan prajurit untuk berperang mengalahkan Kota Troya ini Thersites dilukiskan sebagai ”lelaki paling jelek” dalam pasukan. Kakinya lemah sebelah, pundaknya melengkung, rambutnya tinggal beberapa helai di ubun-ubun. Tapi yang menyebabkan ia dicatat dalam Iliad adalah ”lidahnya yang tak terkendali”. Ia mengecam mereka yang berkuasa.
Pada suatu saat, setelah bertahun-tahun perang tak selesai, Thersites mendamprat Raja Agamemnon.


”Agamemnon,” teriaknya dengan suara melengking, ”sekarang apa yang membuat diri tuan rusuh, apa lagi yang tuan inginkan? Tenda tuan penuh dengan logam berharga dan perempuan jelita, sebab tiap kali kami taklukkan kota kami persembahkan jarahan itu kepada tuan.”

Thersites tampaknya adalah suara yang lelah perang—yang merasa bahwa orang bawahan macam dia hanya menanggungkan rasa sakit. Maka serunya pula kepada sang raja: ”Tuan tak berbuat baik, dengan membiarkan bangsa Achaea yang tuan perintah jadi sengsara.”

Ketika Agamemnon tak menyahut, Thersites pun berseru kepada sejawatnya: ”Marilah kita berlayar pulang, dan tinggalkan orang ini di Troya”.

Mendengar itu, salah seorang sekutu Agamemnon, Odysseus, mendatanginya. Raja Ithaca ini marah. ”Jaga mulutmu, Thersites! Jangan kau ngoceh lebih jauh. Jangan kau cerca para pangeran bila tak ada yang mendukungmu….”

Dan Odysseus pun memukulkan tongkat keemasannya ke punggung Thersites. Laki-laki itu tersungkur, bengkak dan berdarah.
Tapi orang-orang tak menolong Thersites; mereka malah menertawakannya ketika si mulut tajam itu menangis kesakitan….
Sejarah demokrasi mendapatkan perumpamannya dalam kisah orang yang dipukul dan ditertawakan itu. ”Demokrasi,” kata Rancière dalam 10 tesisnya tentang politik, ”adalah istilah yang diciptakan oleh musuh-musuhnya.”

Kata demos bermula sebagai ejekan bagi yang tak ”punya kualifikasi” memerintah. Menurut Rancière, dari tujuh axiomata atau syarat-syarat memerintah yang disusun Plato ada empat yang bersifat alamiah, semuanya berdasarkan kelahiran. Maka yang tua punya dasar untuk berkuasa atas yang muda, majikan atas hamba, bangsawan atas petani. Plato juga menyebut syarat kelima: kekuasaan yang kuat atas yang lemah, dan syarat keenam: kekuasaan mereka yang punya pengetahuan atas mereka yang tidak.

Yang menarik ada axioma ketujuh dalam Plato: ”pilihan tuhan”. Lantaran dewa atau Tuhan tak bisa ditebak, kekuasaan yang disebut karena ”pilihan tuhan” datang melalui sejenis undian. Dalam demokrasi tak ada kualifikasi apa pun bagi yang memerintah, kecuali, dalam kata-kata Rancière, ”semata-mata kebetulan”. Tak ada prinsip yang sudah siap dalam mengalokasikan peran sosial.

Dengan kata lain: demokrasi, bagi musuh-musuhnya, adalah kekuasaan yang awut-awutan, pemerintahan para Thersites yang bermuka buruk yang pantas dipukul dan ditertawakan.

Perlu ditambahkan di sini: mereka ini—setidaknya dalam kisah Yunani kuno—tak hanya yang berasal dari kelas sosial lebih rendah. Pada mulanya, kata demos memang mengacu ke ”mereka yang tak berpunya”. Tapi di satu bagian Buku XII Odysseus disebutkan bagaimana Polydamas mengeluh karena pendapatnya tak diacuhkan Hektor—meskipun keduanya pangeran Troya dan saudara sekandung.

Rakyat, atau demos, dengan demikian bukanlah himpunan tertentu satu kelompok penduduk. Rakyat adalah pelengkap penyerta justru dalam arti mereka tak bisa serta. Rakyat adalah siapa saja yang jadi bagian yang tak masuk bagian, himpunan yang tak masuk hitungan, le compte des incomptés.

Ada yang paradoksal di sini: di satu pihak, rakyat melengkapi bangunan kekuasaan; di lain pihak, rakyat ada di luarnya. Dalam paradoks itulah politik, sebagai perjuangan, lahir. Sebagai pelengkap, mereka yang tak masuk hitungan itu dibutuhkan. Tapi ketegangan terjadi ketika pada saat yang sama mereka ditampik dan pemisahan ditegakkan, ketika kekuasaan yang ada menentukan mana yang bisa didengar (atau dilihat) dan mana yang tidak.

Tapi kekuasaan yang demikian tak mengakui bahwa selalu ada yang gerowong yang tak tercakup oleh garis pemisah yang diletakkan dari atas. Dari yang gerowong itulah semburan terjadi. Dari gerowong itulah politik bangkit. Thersites bersuara dan ia dipukul, ditertawakan, dan diabaikan—tapi bukankah dengan demikian kita tahu ada liang kosong dalam wibawa Agamemnon dan keutuhan bangsa Achaea, dan bahwa Odysseus tak ingin ditinggalkan sendiri di ambang Perang Troya?
Tentu, Thersites seorang diri; ia bukan subyek sebuah laku politik. Tapi gugatannya adalah gugatan yang wajar bagi siapa saja yang merasakan ketidakadilan dan aniaya. Politik sebagai perjuangan selalu menyerukan panggilan yang universal—dan itu sebabnya dari gerowong itu terjadi gerak kolektif yang bisa dahsyat.

Maka kini kita lebih dekat ke Thersites ketimbang ke Odysseus. Tapi ini juga karena kita (bersama Thersites) tak tahu apa sebenarnya yang hendak dicari orang macam Agamemnon.

Kita hanya tahu, Perang Troya yang bertahun-tahun itu bermula karena istri sang raja melarikan diri ke pelukan orang lain. Pada mulanya adalah ego—yang akhirnya menentukan segalanya. Hanya dengan kebrutalan yang luar biasa proses itu bertahan. Dalam arti itu, kisah Homeros bukanlah sebuah epos; ia sebuah tragi-komedi: sebuah kisah kekuasaan yang gila dan ganjil, di mana seorang Thersites tak bisa serta, tak mau serta. (Alonzo Sera Sawaki)

Read more...

Headphones Si Pirang

Monday, January 11, 2010

Suatu ketika, seorang pirang pergi ke penata rambut, namun ia mengenakan headphones.
Si penata bilang, "Kamu harus melepaskan benda itu atau aku tidak dapat memotong
rambutmu!" Si pirang menjawab, "Tidak! Aku tidak bisa! Aku akan MATI tanpa mereka!"
Jadi si penata hanya dapat menarik nafas, dan memotong rambut pada sisi kepalanya.Ketika si pirang tertidur, si penata berpikir, "Akan kulepas headphonesnya jadi aku bisa memotong rambutnya. Dia nggak akan sadar ini." Jadi, ia melakukannya.
Sekitar 3 menit berikutnya, si pirang melorot dari kursi, meninggal. Si penata berkata,"Kira-kira apa ya penyebab kematiannya? Mungkin ada hubungannya dengan
headphonesnya?" Si penata mengambil headphones itu dan mendengarkannya baik-baik
apa yang sedang diputar.
Headphones itu mengulang kata-kata, "Tarik nafas, lepaskan."

Read more...

EMPAT PRINSIP BERKAT

Thursday, January 7, 2010

Kejadian 12:2

Alkitab mengajarkan bahwa kita seharusnya menggunakan "berkat-berkat kita" untuk memberkati orang lain:

1. Berkat-berkat yang diberikan Tuhan kepada kita harus mengalir ke orang lain

Alkitab mengajarkan bahwa kita diberkati bukan cuma sekedar agar kita merasa lebih baik, bukan cuma sekedar agar kita lebih bahagia dan lebih nyaman, tetapi supaya kita bisa memberkati atau menolong orang-orang lain.

Allah berkata kepada Abraham: "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan MENJADI BERKAT." (Kejadian 12:2)

Allah memberkati Abraham supaya Abraham mengalirkan berkata itu kepada orang lain ...

Itulah yang disebut: "Masterpiece for Masterplan"
Anda dijadikan sebagai Maha Karya ciptaan-Nya untuk tujuan mewujudkan Rencana-Nya menjadi berkat bagi bangsa-bangsa; menolong orang lain mewujudkan impian mereka; menjadikan semua bangsa murid Kristus ...

Prinsip pertama dari berkat Tuhan adalah berkat itu harus mengalir keluar ...

2. Ketika kita memberkati orang lain, Tuhan akan memelihara hidup kita

Prinsip kedua dari berkat Tuhan adalah apabila kita menaruh perhatian penuh untuk memberkati atau menolong orang lain, maka Tuhan akan mencukupi semua kebutuhan kita.

Tuhan Yesus berkata, "Sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, istrinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa itu juga dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal." (Lukas 18:29-30)

Ketika kita memperhatikan kebutuhan orang lain, Tuhan akan mengambilalih semua masalah dan kesulitan hidup kita. Dia mengatasi masalah dan kesulitan kita jauh lebih baik dibanding kita sendiri yang mengatasinya.

Ketika kita menaruh perhatian untuk memberkati hidup orang lain, maka Tuhan akan memberikan imbalannya sekarang ini juga dan kita akan menerima hidup yang kekal. Itulah yang berkat sejati.

Alkitab berkata, "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri ..." (Amsal 11:17)

3. Ketika kita memberkati orang lain maka kita diberkati kembali

Semakin banyak kita memberkati orang lain; semakin banyak kita menolong orang lain; semakin banyak pula Tuhan akan memberkati hidup kita.

Di dalam Lukas 6:38 Tuhan Yesus berkata, "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncangkan dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."

Prinsip berkat yang ketiga adalah Semakin banyak kita mencoba untuk memberkati orang lain di sekitar kita, maka semakin Tuhan akan berkata: "Aku akan mencurahkan berkat ke atas hidupmu dengan berlimpah-limpah."

4. Semakin banyak kita diberkati Tuhan, Dia mengharapkan kita menolong lebih banyak lagi orang lain

Yesus berkata, "... Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut." (Lukas 12:48)

Prinsip berkat Tuhan keempat adalah semakin banyak kita diberikan, semakin banyak kita dipercayakan maka sesungguhnya semakin besar tanggung jawab yang dituntut oleh Tuhan.

Kita harus mempertanggungjawab kan semua pemberian Tuhan, kita harus mengerti bahwa jika kita telah diberkati lebih banyak dari pada orang lain di sekitar kita, hal itu berarti bahwa Tuhan punya tujuan agar kita peduli dan memperhatikan orang lain ...

"Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat." (2 Korintus 5:10).

By: Pdt. Sapta J. Tandi (Gembala Sidang GBI MPI, Palembang)

Read more...

TENTUKAN PILIHAN DALAM HIDUP KITA SECARA BIJAK.

Hidup terbentuk oleh pilihan-pilihan, terbentang dari yang biasa-biasa sampai yang memeras otak. Mau jadi apa saya nanti, mau pakai baju apa saya hari ini? Mau makan apa hari ini dan hari esok? Harus menikah dengan siapa? Apakah karir masa depanku?

Besar dan kecil, pilihan-pilihan kitalah yang menata hari-hari kita, menetapkan siapa diri kita, dan sebagian besar menentukan level kebahagiaan dan kepuasan hidup kita. Ironisnya, pilihan-pilihan sepele (bayangkan berapa jam kita menghabiskan waktu untuk menentukan baju apa yg dibeli, mau pake apa besok) sering memperoleh sebagian besar porsi waktu dan perhatian kita, sedangkan untuk pilihan-pilihan krusial, penting, besar yang menentukan dampak / perubahan besar sering terabaikan bahkan tersisihkan.

Apakah yang kita inginkan dari kehidupan? Ingin menjadi orang seperti apakah ? Mungkin saja sekedar menjalani hidup tanpa mengurusi pertanyaan besar demikian – seperti dilakukan jutaan orang — tapi cara hidup demikian kebanyakan berakhir mengecewakan dan penuh penyesalan daripada kebahagiaan dan pencapaian sejati.


Jika tidak ada arah yang jelas kemana harus melangkah, kita bisa saja berlabuh dimana saja. Jangan pernah biarkan hal itu terjadi dalam hidup kita. Temukan apa yang paling berharga dalam hidup ini dan kejarlah itu. “Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat.13:45-46)

Berapa banyak orang pernah menemukan mutiara tersebut sebelumnya, namun tidak menyadari nilai sesungguhnya? Berapa banyak orang pernah mengingini mutiara tersebut, tapi malah menghamburkan sumber dayanya pada hal-hal yang jauh lebih rendah nilainya? Apakah mutiara berharga kehidupan kita? Hal-hal lain apa yang kita siap korbankan untuk menukarkannya dengan mutiara berharga tersebut?

Keputusan-keputusan itu hanya kitalah yang bisa membuatnya dengan pertolongan Allah, karena kita tidak bisa berjalan sendiri tanpa-NYA. Di hadapan kita terbentang beberapa pilihan Jalan… Seorang John Oxenham, berucap, "di depan setiap orang terbentang, jalan yang luhur dan rendah, dan tiap orang menentukan jalan yang harus ditempuh jiwanya".

Kita tidak bisa bekerja sendiri dalam menentukan pilihan itu, sertakan Tuhan senantiasa dalam penentuan pilihan2 kita, dan yakinlah bahwa DIA akan membantu kita dalam menentukan pilihan yang terbaik.

Mereka yang berjiwa luhur menempuh jalan yang luhur, dan yang berjiwa kerdil menjelajahi jalan yang rendah. Dan di antara keduanya, pada lereng berkabut, orang selebihnya berkeliaran kesana-kemari tanpa tujuan.
(Amsal 14:12; Amsal 16:25; Amsal 2).

Read more...

Pemimpin Ideologis

Sunday, January 3, 2010

Oleh : Maikel “GMPI” Revolter

Leader adalah pemimpin yang mampu memimipin minimal dari diri sendiri, amanah, kredibel, akuntabel, serta responsibel. Pemimpin itu mampu, tegas, tegar, tidak takut, mengambil resiko dalam mengambil kebijakan.

Pemimpin itu siap pakai dalam setiap kondisi. Pemimpin adalah seorang penunjuk jalan. Ibarat ia seorang sopir dialah yang mengendalikan mobil dan memberi rasa nyaman pada penumpang. Demikian diungkapkan oleh Raja Kaimana Rohullah Syahal Aiutuarauw, beberapa waktu lalu.

“Kepemimpinan suatu organisasi tidak bisa terlepas dari ideologi yang diemban. Ideologilah yang akan memepengaruhi arah gerak dan target yang ingin dicapai dalam kepemimpinan. Sebuah ideologi haruslah memiliki pemikiran mendasar yang memancarkan pemikiran-pemikiran lainnya. Pemikiran mendasar itu sendiri merupakan pemikiran yang tidak didahului oleh pemikiran lainnya dan hanya terbatas pada pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan. Menurutnya, pemikiran mendasar inilah yang disebut dengan akidah,” ungkap Raja Kaimana.

Diungkapkan, pendapat tersebut mencerminkan bahwa seorang pemimpin harus berpemikiran ideologis. Artinya, ia mampu mengatasi berbagai persoalan dengan cara penyelesaian dengan padangan yang tepat. Ketika seseorang tidak berpemikiran ideologis, maka cara bertindak dan berpikir cenderung bersifat pragmatis.

Sikap pragmatis akan memunculkan pemimpin yang bersifat kompromi pada sistem yang rusak, tidak revolusioner, pasrah pada keadaan, dan cenderung menggunakan momen sesaat untuk menyelesaikan persoalan. “Pemimpin ideologis akan tercermin dalam kinerjanya terkait urusan rakyat. Segala permasalahan yang terkait akan diberikan solusi yang tepat sehingga rakyat merasa dihargai dan diurusi. Tidak ada salahnya jika mengambil contoh pemimpin yang bersifat ideologis. Saya mencontohkan sosok Habelino Alonzo Sera Sawaki, beliau merupakan contoh pemimpin yang ideologis,” ujar Raja Kaimana.

Ideologi yang diemban oleh Habelino merupakan ideologi yang benar karena menunjukkan esensi kodrati manusia, yakni kebersamaan (kebangsaan). Setiap manusia senantiasa menginginkan kehidupan yang damai, oleh karenanya kebersamaan perlu terus menerus dibina. Hal senada diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Lembaga Kesehatan Masyarakat Papua (LKMP), Rifandi. Menurut Rifandi, Ciri pemimpin yang ideologis adalah belajar secara terus-menerus.

Pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar. Wujud dari Ideologi Habelino adalah kaderisasi yang berkelanjutan. Rifandi dengan tegas mengatakan bahwa Habelino Alonzo Sera Sawaki adalah contoh pemimpin yang komit terhadap kaderisasi. Sejak tahun 2001 hingga sekarang (kurang lebih delapan tahun) ia konsisten untuk mendidik pemimpin muda.

Menurutnya, sosok Habelino lebih pantas kalau disebut sebagai seorang mentor, yakni seseorang yang mewujudkan karakteristik yang anda kagumi, dan mau membantu anda juga untuk mengembangkan karakteristik tersebut, sehingga anda bisa meraih sasaran serta ambisi anda. (*)

Read more...

Pemimpin Ideologis

Oleh : Maikel “GMPI” Revolter

Leader adalah pemimpin yang mampu memimipin minimal dari diri sendiri, amanah, kredibel, akuntabel, serta responsibel. Pemimpin itu mampu, tegas, tegar, tidak takut, mengambil resiko dalam mengambil kebijakan.

Pemimpin itu siap pakai dalam setiap kondisi. Pemimpin adalah seorang penunjuk jalan. Ibarat ia seorang sopir dialah yang mengendalikan mobil dan memberi rasa nyaman pada penumpang. Demikian diungkapkan oleh Raja Kaimana Rohullah Syahal Aiutuarauw, beberapa waktu lalu.

“Kepemimpinan suatu organisasi tidak bisa terlepas dari ideologi yang diemban. Ideologilah yang akan memepengaruhi arah gerak dan target yang ingin dicapai dalam kepemimpinan. Sebuah ideologi haruslah memiliki pemikiran mendasar yang memancarkan pemikiran-pemikiran lainnya. Pemikiran mendasar itu sendiri merupakan pemikiran yang tidak didahului oleh pemikiran lainnya dan hanya terbatas pada pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan. Menurutnya, pemikiran mendasar inilah yang disebut dengan akidah,” ungkap Raja Kaimana.

Diungkapkan, pendapat tersebut mencerminkan bahwa seorang pemimpin harus berpemikiran ideologis. Artinya, ia mampu mengatasi berbagai persoalan dengan cara penyelesaian dengan padangan yang tepat. Ketika seseorang tidak berpemikiran ideologis, maka cara bertindak dan berpikir cenderung bersifat pragmatis.

Sikap pragmatis akan memunculkan pemimpin yang bersifat kompromi pada sistem yang rusak, tidak revolusioner, pasrah pada keadaan, dan cenderung menggunakan momen sesaat untuk menyelesaikan persoalan. “Pemimpin ideologis akan tercermin dalam kinerjanya terkait urusan rakyat. Segala permasalahan yang terkait akan diberikan solusi yang tepat sehingga rakyat merasa dihargai dan diurusi. Tidak ada salahnya jika mengambil contoh pemimpin yang bersifat ideologis. Saya mencontohkan sosok Habelino Alonzo Sera Sawaki, beliau merupakan contoh pemimpin yang ideologis,” ujar Raja Kaimana.

Ideologi yang diemban oleh Habelino merupakan ideologi yang benar karena menunjukkan esensi kodrati manusia, yakni kebersamaan (kebangsaan). Setiap manusia senantiasa menginginkan kehidupan yang damai, oleh karenanya kebersamaan perlu terus menerus dibina. Hal senada diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Lembaga Kesehatan Masyarakat Papua (LKMP), Rifandi. Menurut Rifandi, Ciri pemimpin yang ideologis adalah belajar secara terus-menerus.

Pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar. Wujud dari Ideologi Habelino adalah kaderisasi yang berkelanjutan. Rifandi dengan tegas mengatakan bahwa Habelino Alonzo Sera Sawaki adalah contoh pemimpin yang komit terhadap kaderisasi. Sejak tahun 2001 hingga sekarang (kurang lebih delapan tahun) ia konsisten untuk mendidik pemimpin muda.

Menurutnya, sosok Habelino lebih pantas kalau disebut sebagai seorang mentor, yakni seseorang yang mewujudkan karakteristik yang anda kagumi, dan mau membantu anda juga untuk mengembangkan karakteristik tersebut, sehingga anda bisa meraih sasaran serta ambisi anda. (*)

Read more...

Kata Mereka

This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by Phaul Heger
PAPUA SONG Gratisan Lada Papua Barat

Go :

Free Website Hosting

Translate

Blog2Print

Lorem Ipsum

Our Blogger Templates Web Design



Total Pageviews

KU TAK INGIN

  © Blogger template Noblarum by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP